Soekarno: Antara Mitos & Kenyataan

Presiden SBY sedang memperhatikan lukisan Bung Karno yang akan dipajang di Istana Negara.

Presiden SBY sedang memperhatikan lukisan Bung Karno yang akan dipajang di Istana Negara.

Sebagai seorang tokoh besar dalam sejarah, nama Soekarno sudah jadi mitos tersendiri. Di balik mitos itu ada legenda yang dicampur fakta dan sejarah. Sewaktu saya berkunjung ke Istana Presiden Tampak Siring di Bali misalnya, saya mendapatkan cerita dari penjaga atau juru kuncinya tentang mitos itu. Salah satunya adalah kemampuan Bung Karno untuk ‘malih rupo’ atau beralih wajah menjadi orang lain, sehingga tidak dikenali. Katanya, para penjaga sering terkejut saat mendapati sang presiden sudah berada di luar istana. Bukan untuk hal penting, tapi seringkali sekedar untuk membeli sate. Beliau memang dikenal sering incognito berkunjung ke rakyat secara langsung. Kalau istilah sekarang “blusukan”, tapi tanpa membawa media. Sehingga tanpa pencitraan. Tapi malah semua itu dikenang jauh melewati batas waktu kehidupannya sendiri.

Tentu saja, mitos-mitos semacam itu ‘cuma cerita’, tak bisa dibuktikan kebenarannya. Tapi dari film “Soekarno” yang saya tonton kemarin, ada mitos lagi tentang kehidupan beliau, yaitu seputar wanita. Menurut ayah saya, konon si Bung begitu percaya diri soal wanita. Inggit Garnasih yang sudah bersuami saja diminta oleh Bung Karno langsung kepada sang suami, yang kemudian menceraikannya untuk dinikahi oleh Soekarno. Konon, mitosnya Soekarno bahkan pernah meminta agar Jacqueline diceraikan oleh Presiden A.S. Kennedy, juga Ratu Sirikit oleh Raja Bhumibol Aduljadev, tentu untuk diperistri olehnya. Tapi saya tidak yakin ini benar. Karena Bung Karno tentu tahu resiko diplomatiknya bila itu terjadi.

Mitos lain adalah beliau ‘kebal’ karena beberapa kali lolos dari upaya pembunuhan. Padahal, seringkali itu karena kebodohan si pembunuh sendiri atau kesigapan pengawalnya dalam menyelamatkan. Bahkan seusai beliau wafat, mitos itu masih terus muncul bahkan terkesan mistis. Sebutlah saya sendiri punya foto ‘penampakan’ wajah beliau di makamnya sendiri, saat di masa Orde Baru masih dilingkupi cungkup dengan kaca. Juga ada mitos lukisan beliau jantungnya berdetak. Dan masih banyak lagi.

Kemunculan mitos itu karena para pengikutnya ingin begitu ‘mendewakan’ sang pemimpin. Padahal, tanpa itu pun sebenarnya beliau sudah istimewa. Menjadi pemimpin berarti masuk ke “kelompok elite”, mungkin jumlahnya hanya 0,1 % dari populasi dunia. Kini, dengan adanya demokrasi dan para pemimpin di sektor non-pemerintahan, bisa jadi angka itu membesar. Tapi, tetap saja sedikit karena setiap berapa ratus orang cuma ada satu pemimpin.

Karena itu, bagi saya, agak kurang beralasan bila ada pihak yang melakukan “monopoli kenyataan” atas tokoh sejarah seperti Soekarno. Termasuk pula pihak keluarga seperti anak-anak kandungnya. Karena, orang besar seperti beliau punya banyak sisi. Termasuk pula mitos-mitos yang melingkupinya. Biarlah itu semua menjadi romantika pemanis cerita dari sang tokoh itu sendiri. Tentu agar semua orang bisa ikut menikmati secara bebas tanpa dihalangi.

Foto: tribunnews.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s