Begadang

Begadang Rhoma Irama

“Begadang jangan begadang/Begadang kita jangan begadang/Begadang boleh saja/Lalau ada perlunya…”

 

Eh, ini bukan promosi apalagi kampanye si abang calon presiden lho, hehehe. Tapi saya memang sedang ingin membahas soal ini.

Begadang adalah kebiasaan lama di kampung-kampung. Biasanya untuk keperluan ronda atau siskamling (sistem keamanan lingkungan). Atau sesekali untuk membantu tetangga yang ‘hajatan’ atau ‘punya gawe’ atau malah kena musibah. Di beberapa daerah, tradisi ‘melekan’ juga bisa dalam konteks kepercayaan seperti di malam 1 Suro atau 1 Muharram.

Namun kini, begadang menjalar ke kota-kota besar. Tapi, beda tujuan dan pelakunya, karena orientasinya sekedar nongkrong menghabiskan waktu yang dilakukan oleh remaja. Keinginan berada di luar rumah oleh remaja ditangkap sebagai kebutuhan gaya hidup oleh pemilik kapital. Maka, bertebaranlah ‘tempat nongkrong’ yang buka 24 jam.

Bagi saya yang sering insomnia sambil kerja, ini menguntungkan. Karena kini tak perlu repot mencari “warkop” alias “warung kopi” yang buka sampai pagi. Tinggal pilih, malah yang tersedia “waserba” alias “warung serba ada”. Untung, karena saya sudah sangat mengurangi minum kopi akibat penyakit maag yang saya derita. Saya bisa memilih menyeruput slurpee atau menenggak hot chocolate atau minuman kemasan dingin dari ‘kulkas gede’ (maklum, orang kampung. Hehe).

Tapi, ada tapinya, saya cenderung kurang setuju kalau tempat-tempat itu menjual minuman keras beralkohol secara bebas. Saya memperhatikan, banyak di antara pembeli tampaknya belum cukup umur. Akan tetapi, karena ini bukan negara Islam, saya juga tidak sependapat kalau penjualannya harus dilarang. Asalkan, penjualannya tidak melanggar aturan seperti di dekat rumah ibadah atau sekolah.

Di samping itu, saya agak kurang menyukai polah-tingkah pengunjung yang joroknya minta ampun. Terus-terang, saya heran dengan gaya mereka. Dandanan sih ‘sok kaya’, tapi kelakuan ‘kampungan’.

Saya masih mendambakan ada tempat ‘begadang’ seperti di luar negeri. Yang tenang, bersih, aman dan nyaman. Terutama sekali bagi ‘kalong’ seperti saya, yang seringkali harus bekerja di malam hari. Maka, seringnya saya cuma mampir membeli ‘logistik’ saja di tempat-tempat tadi, untuk kemudian melanjutkan ‘begadang’ di ‘gua’ saya sendiri yang nyaman. Ahem.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s