Menjadi Teladan Itu Sulit

pemimpin teladanBanyak orang mendambakan ketenaran, tapi seringkali tak mau menanggung resikonya. Baik resiko setelah menjadi tenar, maupun jalan terjal yang harus dilalui untuk mencapainya. Satu hal yang paling ‘mengerikan’ dari menjadi tenar adalah ‘menjadi teladan’. Kita akan berada di puncak gunung sendirian, dan orang-orang di bawah gunung bisa melihat kita dengan jelas. Sebaliknya, karena terhalangi ketinggian dan awan, kita bisa jadi tak mampu melihat masalah dengan jernih. Meski ‘bird eye view’ seolah lebih jelas karena mencakup segalanya dari atas, tapi pemandangannya akan tampak ‘kecil-kecil’ dan tak mendetail. Kalau bahasa lainnya, kita hanya bisa melihat persoalan secara makro saja, tidak lagi mikro.

Hal lain lagi, seorang teladan akan menjadikan dirinya ‘sasaran tembak’. Itulah yang dilakukan oleh Jose Mourinho. Ia sengaja bersikap menyebalkan agar pers menjadikan dirinya musuh. Dengan begitu, para pemainnya yang sebenarnya juga bintang lebih bisa berkonsentrasi berlatih dan bermain. Mourinho juga mengambil alih tanggung-jawab para pemainnya di lapangan. Ia bersikap seperti adagium militer: “tak ada prajurit salah, hanya ada komandan yang salah memberi perintah”. Maka, benar-salah pemainnya di lapangan, ia akan membelanya habis-habisan. Karena hal inilah ia begitu dicintai pemain dan para stafnya. Terbukti, sederet prestasi berhasil diraihnya.

Mourinho masih beruntung. Itu kata saya. Selain mendapatkan gaji luar biasa -ia pelatih sepakbola termahal di planet ini- ia juga didukung manajemen secara penuh. Ibaratnya, apa pun permintaannya pasti dipenuhi. Wajar bila mengingat tanggung-jawabnya. Tapi apa yang saya pernah alami justru kebalikannya.

Dipaksa menjadi teladan, berada di puncak gunung, tapi benar-benar sendirian. Cuma jadi ‘sasaran tembak’ belaka, tapi tanpa dibekali senjata dan amunisi memadai. Kalau Anda pernah gugup saat bicara di depan umum, tentu akan tahu rasanya. Nah, beban menjadi teladan ini berjuta-juta kali lebih berat.

Karena itu, siapkan diri senantiasa. Anda tak tahu kapan kesempatan itu akan datang. Menjadi teladan sebenarnya bisa dimulai dari hal kecil, dari diri sendiri dan saat ini juga. Misalnya mengubah kebiasaan buruk. Contoh paling sederhana adalah ‘jam karet’. Lebih baik bilang tak bisa datang daripada menjanjikan datang tapi terlambat dan membuat orang lain menunggu ‘harap-harap cemas’. Itu salah satu teladan dari beberapa orang hebat dengan jadwal ketat yang saya kenal dekat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s