Nelson Mandela Sahabat Indonesia

Nelson-Mandela-at-the-sev-001Pagi ini, dunia berduka disebabkan wafatnya “the living legend”. Beliau adalah Nelson Mandela. Seperti Soekarno, beliau adalah founding father negaranya. Bedanya, beliau bukanlah orang yang mendirikan Afrika Selatan, tanah airnya, melainkan orang yang ‘membebaskan’ Afrika Selatan. Penjajahannya pun unik, bukan dari bangsa lain dalam konteks bangsa berdaulat lain, melainkan dari rasisme. Hingga perjuangan Mandela dan pejuang ANC (African National Conference) berhasil di tahun 1994, sejak 1948 terjadi pemisahan antara warga negara asli berkulit hitam dan keturunan yang berkulit putih.

Sama seperti Indonesia, Afrika Selatan juga pernah dijajah oleh Belanda. Sebenarnya, politik apartheid sebagai sebutan dari praktek rasisme tadi merupakan hasil dari Pemilihan Umum 1948 yang dimenangkan oleh National Party. Dan sebenarnya ada empat kategorisasi kelompok rasial berdasarkan warna kulit, yaitu hitam, putih, berwarna dan India. Praktek ini mengerikan karena kaum berkulit hitam yang sebenarnya mayoritas dan penduduk asli dianggap ‘bukan manusia’. Segala pelayanan publik dibedakan, dengan warga Afrika Selatan berkulit hitam menjadi warga negara kelas empat. Contohnya untuk toilet, ada tiga jenis: lelaki, perempuan dan dipisahkan jauh di belakang untuk “kulit hitam” dengan satu ruangan campur untuk lelaki dan wanita. Itu belum lagi perlakuan seperti di pemukiman, bus, rumah sakit, dan fasilitas umum lain. Warga negara berkulit hitam dianggap sederajat dengan binatang. Tentara dan polisi juga ringan tangan bahkan untuk membunuh. Mengerikan! Apartheid adalah perbudakan manusia di zaman modern.

Nelson Mandela ditangkap dan dipenjara oleh rezim penguasa selama 27 tahun. Ia mendapatkan nomor registrasi tahanan nomor 466 ketika dipenjara tahun 1964 usai ditangkap tahun 1962. Kode “tahanan 46664” digunakan oleh penguasa juga rekan-rekannya untuk berkomunikasi. Ini menginspirasi Joe Strummer & Bono untuk kelak menciptakan lagu dan konser bertajuk “46664” pada tahun 2000 sebagai bagian dari kampanye penanggulangan AIDS di benua Afrika.

Plang khusus kawasan kulit putih

Plang khusus kawasan kulit putih

Dunia mengucilkan Afrika Selatan di era apartheid. Termasuk Indonesia. Kita tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Afrika Selatan di masa pemerintahan apartheid. Dan Indonesia termasuk negara yang aktif mendukung perjuangan pembebasan Afrika Selatan dari politik rasisme, terutama melalui Gerakan Non Blok. Nelson Mandela sendiri sangat menyadari ini. Sesudah ia dibebaskan dari penjara Victor Verster pada tahun 1990, salah satu event internasional penting yang kemudian dihadirinya adalah Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non Blok di Jakarta dan Bogor tahun 1992. Acara ini mencatat rekor dunia saat itu sebagai event internasional yang dihadiri para pemimpin negara terbanyak di dunia, bahkan lebih banyak daripada Sidang Majelis Umum PBB.

Sejak itu, Nelson Mandela dengan penuh kesadaran mengenakan batik sebagai pakaian resminya. Di berbagai kesempatan, ia selalu mengenakan batik. Termasuk saat melakukan kunjungan kenegaraan ke negara-negara lain. Bahkan di saat negaranya menjadi tuan rumah Piala Dunia 2008 dan ia menerima kunjungan delegasi FIFA yang membawa serta World Cup trophy. Selain itu, Afrika Selatan juga mendukung Indonesia saat kita hendak menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB dan Dewan HAM PBB.

Pengakuan atas kepahlawanannya datang dari berbagai penjuru dunia. Terutama setelah politik apartheid akhirnya dihapuskan sepenuhnya dari Afrika Selatan pada 1994, setelah perundingan damai dimulai tahun 1990. Ia menerima anugerah Nobel Perdamaian bersama Presiden Afrika Selatan terakhir yang berkulit putih F.W. de Klerk pada tahun 1993. Amerika Serikat menganugerahkannya medali “Presidential Model of Freedom”. Ia juga penerima terakhir “Lenin Prize for Peace” dari Uni Sovyet sebelum negara itu bubar pada 1992. Pemerintah Kanada, India, Pakistan, Libya, dan Turki juga menganugerahinya penghargaan. Pemerintah kerajaan Inggris juga menganugerahi gelar kebangsawanan Bailiff Grand Cross of the Order of St. John dan medali Order of Merit. Bahkan PBB pada bulan November 2009 dalam Sidang Majelis Umum menjadikan hari lahirnya pada 18 Juli sebagai “Mandela Day”. Para seniman juga menghormatinya dengan menciptakan karya khusus untuknya. Termasuk musisi terkemuka Stevie Wonder dan U-2. Ada pula film yang dibuat terinspirasi perjuangannya, antara lain Mandela and De Klerk (1993), Goodbye Bafana (2007), Invictus (2009), dan yang terbaru Mandela: Long Walk To Freedom (2013). Sementara proses perundingan pembebasan Afrika Selatan  dari apartheid difilmkan di End Game (2006).

Satu yang terpenting, Nelson Mandela adalah sahabat Indonesia. Hari Kamis, 5 Desember 2013, di Johannesburg, ia telah berpulang ke hadirat Tuhan. Mari kita mengheningkan cipta sejenak, berdo’a untuk teladan kepahlawanannya bagi bangsanya dan dunia. Bila Presiden SBY bisa meluangkan waktu hadir di pemakamannya atau minimal mengirimkan utusan khusus tentu akan sangat positif. Apalagi Presiden AS Barack Obama juga sudah menyatakan akan hadir.  Tentu ini sekaligus menunjukkan kedekatan Madiba -nama panggilan Mandela- dengan Indonesia.

Foto Mandela: AP @ www.theguardian.com, foto plang apartheid: Keystone/Getty Images

2 responses to “Nelson Mandela Sahabat Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s