Film & Kehidupan

collateral-2004-tom-cruise-jamie-foxx-barry-shabaka-henley-pic-2

Salah satu adegan film Collateral, di scene inilah kutipan dalam artikel ini diucapkan.

Saya teramat sangat menyukai menonton film. Namun, akhir-akhir ini saya tak punya banyak waktu luang untuk menonton bioskop. Sehingga, saya memilih membeli keping DVD, meski bajakan. Kenapa? Karena mau tak mau untuk film-film baru yang masih tayang di bioskop cuma tersedia kepingan DVD yang tidak asli. Karena DVD film versi original-nya baru akan rilis beberapa bulan setelah turun dari layar perak. Ada keasyikan tersendiri menonton DVD, karena saya bisa melakukannya sambil bekerja dengan laptop di depan televisi.

Menonton film bisa dianggap merupakan sebuah ‘pelarian’ dari hidup yang sebenarnya. Dengan menyaksikan ‘hidup orang lain’, kita terlupa pada hidup diri sendiri untuk sesaat. Apalagi, di film masalah sudah pasti akan selesai. Sebagian besar film memang berakhir bahagia atau happy ending.

Namun, dalam hidup, masalah tidak selalu selesai. Ada masalah yang memang harus diikhlaskan untuk tidak bisa selesai. Seperti kasus hukum yang terpaksa dipeti-eskan atau jadi dark number. Ini bisa jadi karena kurang bukti, kurang saksi, dicabut oleh pelapor atau memang tidak layak dilanjutkan penyidikannya. Itu kalau kasus hukum.

Sementara dalam hidup, banyak hal tak terkait hukum. Sebutlah anak yang gagal meraih nilai maksimal dalam ujian, sehingga terpaksa harus melanjutkan pendidikan di sekolah yang kualitasnya kurang. Atau sekedar keributan kecil dengan tetangga yang didiamkan bertahun-tahun.

Sebenarnya, setiap manusia bisa ‘memfilmkan’ sendiri kehidupannya. Memang, kebanyakan manusia hidup membosankan dan monoton. Tetap begitu saja dari tahun ke tahun. Mengutip kalimat karakter Vincent (Tom Cruise) dalam salah satu film favorit saya Collateral (2004): “Banyak orang dalam 10 tahun lagi, pekerjaan sama, tempat sama, rutinitas sama. Semua sama. Menjaganya aman terus-menerus.”

Karena itu, meski seringkali sakit dan melelahkan karena hampir selalu melanggar ‘garis demarkasi’ zona nyaman, saya bersyukur hidup saya begitu ‘berwarna’. Banyak pengalaman yang sudah saya lalui. Dan ternyata, itu cuma untuk membuat saya tahu, bahwa jauh lebih banyak lagi yang belum saya alami. Maka, saya pun terus membuat film kehidupan saya sendiri. Semoga kelak rekaman film kehidupan itu bisa saya saksikan sambil ‘ongkang-ongkang kaki’ di dalam surga. aamiin.

Foto ilustrasi: thisdistractedglobe.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s