Hati & Simpati

BG450_Z

“Bila hati telah mati, tak mungkin ada simpati.”

Itulah yang saya alami dan rasakan saat ini. Orang-orang berhati bahkan yang tidak kenal langsung akan dengan mudah menyatakan atau mengungkapkan simpati. Kejadian yang merupakan musibah akan mudah meraih simpati. Itu bisa berupa kematian, kesakitan, atau kegagalan.

Hati yang sudah tidak memiliki cahaya niscaya tak akan sanggup memancarkan cahaya. Saya pernah membaca sebuah status, kalau tidak salah dari kawan lama saya, penulis terkenal pendiri Forum Lingkar Pena (FLP), Asma Nadia. Intinya, memberi kepada yang pantas diberi adalah sebuah kebaikan. Namun, memberi kepada yang tidak pantas diberi justru sebuah keagungan. Tidak pantas beda dengan tidak berhak.

Mereka yang mengaku “orang miskin” semata untuk mendapatkan kucuran Bantuan Langsung Tunai –atau apapun namanya- bukanlah orang yang berhak diberi. Dan kita tetap tidak boleh memberi orang semacam ini. Orang yang tidak pantas diberi itu seperti orang yang sudah menghina kita, tapi kita malah membalasnya dengan kebaikan. Banyak contoh dari khazanah agama untuk hal ini.

Seperti halnya sebuah riwayat –walau saya tak menemukan sandaran hadits sahihnya- yang mengutarakan bahwa Nabi Muhammad SAW setiap pagi menjelang akhir hidupnya menyuapi seorang perempuan pengemis buta di sebuah pasar. Padahal, perempuan Yahudi itu selalu memaki-maki Rasulullah. Tentu tanpa ia tahu yang menyuapinya setiap pagi adalah orang yang dikutukinya sendiri. Ketika Rasulullah SAW wafat dan Abu Bakar r.a. meneruskan kebiasaan ini atas petunjuk Aisyah r.a., barulah perempuan itu tahu dan menyesal. Akhirnya atas hidayah ALLAH SWT ia pun masuk Islam.

Dari buku The Last Lecture (2008) karya Randy Pausch, kita bisa belajar nilai-nilai kehidupan menjelang kematian. Randy adalah pengidap kanker ganas yang sebelum wafatnya menulis buku itu. Ia berjuang melawan penyakitnya sehingga mampu hidup lebih lama daripada perkiraan dokter. Mulai dari mewujudkan impian masa kecil hingga mewujudkan impian orang lain, semua dilakukan sebagai sebuah petualangan kehidupan.

Memberi simpati pada mereka yang membutuhkan, apalagi yang kita kenal langsung dan pernah berjasa bagi hidup kita, adalah sebuah tanda hati yang tulus. Bila kita tidak mampu lagi melakukannya, niscaya Tuhan sudah mematikan hati kita. Dan itu sama saja kita adalah zombie, mayat hidup. Orang tanpa hati cuma satu kata yang bisa mewakilinya: jahat.

Ilustrasi: www.cardsdirect.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s