Intuisi

intellect-vs-intuitionBetapapun hebatnya pendidikan kita, ternyata manusia malah lebih sering menggunakan intuisinya saat mengambil keputusan. Dalam bukunya The Power of Intuition (2004), Gary Klein menjelaskan penelitiannya terhadap profesi yang harus mengambil keputusan cepat dalam waktu singkat. Profesi itu adalah pemadam kebakaran, tentara berpangkat rendah dan perawat bayi. Ternyata, mereka mampu mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dalam waktu singkat dan kemudian bertindak atas informasi itu. Apabila kemudian ternyata tindakannya keliru atau menghadapi situasi baru, intuisi mereka menuntun untuk mengubah keputusan yang telah dibuat. Sehingga, pada akhirnya hasil akhirnya memuaskan, dalam arti bisa menyelamatkan hidup orang lain sesuai dengan profesinya.

Dalam agama, sebenarnya intuisi lebih utama daripada rasio. Semua orang suci mendapatkan petunjuk Tuhan melalui intuisi. Dalam dunia modern kita, ini diteoremakan dalam berbagai cara. Ada “Butterfly Effect” untuk merumuskan interkoneksi antara berbagai hal. Atau dengan cara Malcom Gladwell menerangkannya melalui buku larisnya Blink (2005).

Intuisi seringkali menuntun pada keputusan-keputusan yang kerapkali mengubah hidup. Seperti halnya pindah rumah, menerima sebuah pekerjaan baru, atau sekedar belok kiri atau kanan di sebuah tikungan. Percayakah Anda, bahwa semua hal sebenarnya telah ‘diatur’. Namun, ‘pengaturan’ itu justru terjadi karena pilihan yang kita buat sendiri. Artinya, itu bukan berarti kita harus pasrah, tapi justru harus belajar membuat keputusan yang terbaik dari pilihan yang ada. Tidak ada hal yang kebetulan di dunia, karena bila kita percaya Tuhan, maka ‘kebetulan’ itu pun sebenarnya telah diatur. Hanya saja kita tidak tahu.

Intuisi kerap disebut sebagai “suara hati”. Sepanjang yang saya tahu, agama selain Islam tidak mengenal pemaknaan bahwa yang berpikir itu bukan hanya otak, tapi juga hati. Seringkali hati dianggap tidak ‘berpikir’, tetapi ‘merasa’ saja. Padahal, justru banyak pikiran muncul dari hati. Semua yang terkait emosi, sebenarnya berasal dari hati. Senang-tidak senang, tertawa-marah-sedih, bukanlah kerja otak, tapi hati. Intuisi adalah makin tajamnya hati yang berpikir. Khazanah istilah Islam mengenalnya sebagai “qalb” yang dialihbahasakan menjadi “kalbu”. Ini beda dengan hati fisik yang berupa gumpalan daging itu, karena ini lebih ruhani sifatnya.

Pengasahan intuisi harus dilakukan dengan jalan yang spiritual. Misalnya dengan menaikkan derajat moralitas kita. Tapi juga bisa dengan jalan pembiasaan. Karena intuisi seringkali terkait dengan alam bawah sadar kita. Seorang pemadam kebakaran awalnya pasti berlatih untuk membiasakan diri dengan berbagai skenario kebakaran di lapangan. Sehingga saat ia menghadapinya sendiri, akan sudah tahu keputusan apa yang akan diambil. Klein mensintesakannya dengan sebuah model keputusan, mulai dari mencari dan mengumpulkan informasi sampai merancang “naskah tindakan”. Intinya adalah mengenali pola dari setiap kemungkinan pilihan keputusan yang ada. Menyadari ini, saya pun mulai lebih mengoptimalkan intuisi dibandingkan rasio. Karena ternyata, perhitungan serumit apa pun kerap kali tak terpakai di lapangan. Sama halnya dengan seorang ahli beladiri tidak akan memakai jurus satu-dua-tiga saat berkelahi.

Ilustrasi: kosmoactions.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s