Hari Anak Yatim

puasasyura_thumb2

Tanggal 10 Muharram kemarin adalah hari yang dikenal sebagai “hari Asyura” dalam tradisi Syi’ah. Kaum Sunni yang mayoritas dalam Islam mengadopsinya sebagai “hari anak yatim”. Tanggal 10 Muharram dalam sejarah Islam dicatat sebagai “hari kelam”. Di tahun 61 Hijriah, terjadilah peristiwa yang disebut “Tragedi Pembantaian Karbala”. Saat itu, di padang Karbala, terjadi pertempuran antara Bani Hasyim yang dipimpin cucu Nabi Husain bin Ali r.a.k.w. melawan pasukan kekhalifahan Bani Umayyah pimpinan Yazid bin Muawiyah yang saat itu mengklaim diri sebagai Khalifah. Pertempuran ini tidak imbang karena kekuatan pasukan khalifah sekitar 10 ribu orang, sementara di pihak Husain hanya 70-an orang. Hampir seluruh lelaki di pihak Husain syahid hari itu, sehingga disebut “pembantaian”.

Sejak itu, peringatan kesyahidan ahlul bait itu diperingati Syi’ah dengan ibadah khusus. Namanya “Rafidhah”. Ini ritual ibadah yang hanya ditemukan di komunitas Syi’ah, karena ‘mengerikan’. Mereka memukuli bagian-bagian tubuh sendiri hingga berdarah. Alasannya, karena mengenang tragedi berdarah yang bertepatan dengan 10 Oktober 680 Masehi itu.

 Sementara di bagian lain dunia Islam yang berhaluan Sunni, ibadahnya lebih berupa puasa. Ini karena didukung berbagai hadits shahih yang menyebutkan Rasulullah SAW sendiri berpuasa pada tanggal tersebut. Sebenarnya, tanggal 10 Muharram sudah lama dijadikan hari suci bagi umat beragama.

Menurut riwayat, banyak kejadian bersejarah dalam khazanah agama terjadi di tanggal tersebut. Mulai dari hari pertama ALLAH SWT menciptakan alam semesta, diampuninya dosa Nabi Adam a.s., hingga diselamatkannya Nabi Musa a.s. dari kejaran tentara Fir’aun di Laut Merah. Bahkan konon peristiwa wafatnya Yesus Kristus dan diangkat ke surga pun terjadi pada tanggal ini. Umat Yahudi pun diketahui berpuasa pada tanggal tersebut, sehingga Nabi Muhammad SAW pun kemudian menyatakan hari itu juga suci bagi umatnya.

Ada sebuah pengingat besar bagi umat Islam saat menjalankan ritual di hari itu. Tanpa mengikuti tradisi bid’ah kaum Syi’ah, pembantaian Karbala harus diingat sebagai sebuah kekejaman yang tak perlu ditiru. Selain itu, tekad dan semangat pengorbanan para ahlul bait dalam membela agama ALLAH SWT justru harus ditiru. Mereka tidak takut pada kekuatan musuh yang lebih besar, karena yakin balasan Tuhan lebih baik daripada segala hal di dunia.

Di samping itu, sebagai “hari anak yatim”, tentu kita harus mengingat mereka yang kurang beruntung itu. Pada akhirnya, semua dari kita akan jadi “anak yatim-piatu”. Namun, yang disebut “anak yatim-piatu” adalah mereka yang kehilangan salah satu atau kedua orangtuanya pada saat masih kanak-kanak. Mereka bukan hanya kehilangan penopang kehidupan mereka, tapi juga kasih-sayang. Maka, kasihilah mereka secara nyata. Nabi berjanji, para pemelihara anak yatim akan bersamanya di surga. Sementara, sebaliknya bagi mereka yang mengabaikan, niscaya akan dimasukkan neraka, meskipun ia shalat sekali pun. Itu menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s