Pengalaman Beragama

SufiDerwisjUniverse

Sebagai bukan lulusan pesantren, saya mendalami agama secara otodidak. Padahal sebenarnya keinginan saya sudah sejak kecil adalah menjadi “guru ngaji”. Dalam soal ini, peran orangtua dan keluarga juga penting. Tanpa mau menyalahkan, namun saya memang seperti dibelokkan agar tidak ke sana. Kebebasan untuk memilih baru saya dapatkan setelah kuliah. Meski sudah melahap buku-buku agama sejak SMP, namun banyak jawaban dari pertanyaan masa kecil baru terjawab setelah kuliah S-2.

Saya beragama “tidak apa adanya”. Saya mencari seperti apa seharusnya manusia hidup. Bahkan dalam hal ini saya berani “menembus batas”, melanggar hal-hal yang dianggap tabu. Misalnya, saat SD saya menyenangi kisah wayang yang ternyata adalah kisah suci Hindu, saat SMP saya sudah membaca Bible, saat SMA saya membaca Veda & Bhagavadgita, saat kuliah segala yang bisa saya akses di dalam negeri maupun luar negeri termasuk aneka jenis Bible dan Talmud. Ini karena “kehausan” saya pada makna kehidupan.

Kalau saya cerita pengalaman pribadi, 99 % orang akan tidak percaya. Tapi kalau saya sendiri tidak percaya, berarti saya gila. Jawaban soal ini malah saya dapat dari seorang Syekh Syi’ah asal Iran yang juga Profesor, nama beliau Syekh Mursi. Saya membaca buku beliau, mencocokkan dengan Al-Qur’an dan hadits, membandingkan dengan referensi lain, dan saya terima dengan baik. Saya menerima pendapat beliau tanpa perlu menjadi Syi’ah. Beberapa jawaban “pengalaman aneh” justru saya dapatkan dari Bapa-bapa Gereja awal terutama dari denominasi Arianisme yang menolak Trinitas. Ada pula yang saya dapatkan dari ajaran Buddha.

Semua itu justru membuat saya yakin, bahwa Islam adalah agama paling benar. Benar di sini memang ‘debatable’, tapi kalau kita rasional dengan merujuk pada bukti termasuk sejarah, dan ditambah akal sehat dan terbuka, niscaya akan tahu kalau Islam itu benar. Belum lagi ‘keajaiban’ lain seperti bersinarnya kawasan Makkah Al-Mukaromah terutama seputar Ka’bah saat dipantau dari satelit NASA. Atau yang jelas dan terang yaitu kitab sucinya Al-Qur’an yang selama 14 abad tidak pernah berubah satu titik pun dan dihafal jutaan orang. Tidak ada buku ada kitab lain di muka Bumi yang bisa seperti ini.

Pengalaman beragama tiap orang berbeda. Tidak perlu menyalahkan satu sama lain. Sama dengan hal-hal lain dalam hidup, pengalaman tiap orang berbeda. Contohnya pendidikan. Kita tahu ada kampus yang lebih baik dari yang lain, dan biasanya lulusan kampus ini memang lebih luas wawasannya, selain tentu lebih tinggi ilmunya. Cuma saat sudah jadi sarjana -contoh sarjana ekonomi- seolah tidak terlihat. Budi,SE yang lulusan FEUI dan Badu,SE yang lulusan STIE terakreditasi C seolah sama. Kompetensi dan keahlian mereka baru terlihat saat bekerja. Sebenarnya, beragama pun begitu. Kita baru bisa memahami kualitas beragama seseorang saat ia harus diuji.

Ilustrasi: blogs.tribune.com.pk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s