Akhir yang Lama, Awal yang Baru

The-end-and-beginning-940x728

Kenapa setiap tahun baru selalu dirayakan begitu meriah? Karena adanya harapan akan sebuah awal baru yang lebih baik. Setiap orang seolah mendapatkan “kesempatan kedua”. Memulai lagi segala sesuatu dari nol, sehingga diharapkan langkah-langkah ke depannya akan lebih baik.

Sebenarnya, akhir dari sesuatu selalu awal dari yang lain. Perhatikan foto ilustrasi di atas. Apabila matahari ‘terbenam’ di satu wilayah Bumi, ia pasti sedang ‘terbit’ di belahan Bumi lainnya. Bila kita selesai sekolah misalnya, adalah awal dari tahapan perjuangan hidup berikutnya. Bila kita menyelesaikan satu pekerjaan, tugas lainnya sudah menanti. Pendeknya, selama alam masih ada, semua siklus siklik itu terus berjalan. Bagi manusia per individu, tentu ukurannya adalah selama ia masih hidup.

Seringkali kita takut menghadapi akhir. Padahal, itu justru pembuka jalan bagi yang baru. Saya sendiri begitu.

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 1434 Hijriah dalam sistem penanggalan Islam. Tanggal 30 Dzulhijjah 1434 H., dan sebenarnya karena Islam menganut sistem perhitungan berdasarkan bulan (lunar system), begitu matahari ‘terbenam’ sore ini, maka sudah masuk ke tahun baru yaitu tanggal 1 Muharram 1435 H. Tidak seperti tahun baru Masehi yang dirayakan secara meriah dan besar-besaran dengan aneka pesta, tahun baru Islam lebih ‘sepi’. Terutama karena maknanya adalah perenungan dan introspeksi. Kalaupun ada keramaian, seperti ada di beberapa daerah di Indonesia, masih berupa perayaan simbolis. Pawai obor misalnya, merupakan simbol bahwa Islam datang membawa terang. Dan tentu “suluh” (bahasa Jawa untuk obor) merupakan perlambang bagi “penyuluhan” atau dakwah juga.

Mengakhiri yang lama seringkali sulit dan sakit. Terutama karena kita sudah terbiasa dengan pola sehingga menjadi habit. Namun, kita harus mencari habit baru yang lebih baik. Misalnya bila di tahun lama ibadah kita kurang baik, maka di tahun baru haruslah lebih optimal.

Manusia kerap kali begitu kejam tak mau memberi kesempatan kedua kepada orang lain. Padahal, Tuhan Yang Maha Baik malah selalu memberikan kesempatan kepada manusia memperbaiki diri, tentu selama dia masih hidup. Itulah makna hakiki dari sebuah pergantian tahun. Akhir dari yang lama, adalah awal dari yang baru.

Foto: covenantgrove.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s