Bintang Utara

Polaris_Rework_Small

Di era peradaban manusia saat ini yang serba teknologi, kita seakan hidup terpisah dari alam. Kaki kita secara telanjang menginjak tanah saja sudah jarang, kita juga seringkali tidak peduli pada kondisi lingkungan. Bahkan kita tidak lagi sering menengadah ke langit untuk memperhatikan bintang-bintang. Alam baru diperhatikan saat ada bencana. Situasinya adalah penyesalan atau malah menyalahkan alam.

Padahal, alam sejak manusia belum ada justru selalu menjadi entitas yang selain dinamis juga “taat azas” sehingga terkesan diam atau tak berubah. Salah satu contoh pengejawantahan “ketetapan”-nya adalah sebuah bintang istimewa bernama “Polaris”. Bahasa Latinnya adalah Ursae Minoris atau Alpha Ursae Minoris. Lebih dikenal sebagai North Star atau “Bintang Utara”. Di masa dahulu, terutama di abad pertengahan di mana pelayaran antar benua seringkali dilakukan sebagai bentuk penjelajahan dan penaklukan, bintang ini dipakai sebagai panduan. Kata “polar” berarti “kutub Utara”, karena memang bintang ini berada tepat di sana. Dan oleh sebab itu pula, oleh para pelaut dan penjelajah dipakai sebagai patokan arah Utara.

Bintang Utara sebenarnya terdiri dari kumpulan bintang dalam rasi Ursa Minor yang berada berdekatan dengan rasi Ursa Mayor. Satu bintang utama yang terlihat paling terang sebenarnya dikenal sebagai α UMi Aa. Para ilmuwan terutama astronom mengukur jaraknya adalah 434 tahun cahaya dari Bumi, dan ia diperkirakan berukuran 46 kali lebih besar daripada matahari di tata surya kita. Meski begitu, ukuran pastinya sebenarnya berubah-ubah karena ia dikategorikan Cepheid star, artinya massa intinya tidak stabil karena sangat panas. Faktor inilah yang menyebabkannya terlihat bercahaya sangat terang di langit malam.

Semenjak manusia meneliti bintang  ribuan tahun lalu, ia sudah dicatat dalam berbagai manuskrip. Kebudayaan kuno seperti Yunani Kuno, Mesopotamia, Babylonia, Aztec, Mesir, China, bahkan Jawa sudah mengenalinya meski dengan berbagai nama. Misalnya ia disebut Cynosūra oleh bangsa Yunani Kuno, stella maris dalam bahasa Latin (nama ini kemudian dinisbahkan sebagai julukan Bunda Maria Perawan Suci Ibu Yesus Kristus) atau dhruva tāra dalam bahasa India Sansekerta. Nama dhruva sendiri adalah salah satu dewa Hindu, sedangkan tāra berarti “bintang tetap”. Peradaban  Arabia malah memberinya nama-nama berbeda seperti Mismar (berarti paku), al-kutb al-shamaliyy (poros kutub Utara), al-kaukab al-shamaliyy (bintang utara) atau juga Alruccabah/Ruccabah yang juga dikenal para ilmuwan Barat.

Semenjak masa kuno itu, konon posisi Bintang Utara sama sekali tidak berubah. Karena itulah, ketepatannya dalam menunjukkan posisi Utara tak perlu diragukan. Ia adalah bintang pemandu arah bagi para penjelajah.

Karena keistimewaannya ini, maka saya mengambilnya pula sebagai nama julukan bagi seseorang yang juga istimewa. Bagi saya, dialah pemandu dalam hidup saya yang sejatinya seperti sedang terombang-ambing badai di lautan. Bak pelita dalam gulita, Bintang Utara telah mampu menunjukkan arah sehingga perjalanan hidup saya kembali ke arah yang benar. Semoga Tuhan memberkati selalu dan menjaganya. aamiin.

Foto: noel.prodigitalsoftware.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s