Konsisten

consistency

Konsisten adalah kata yang sering kita dengar dan baca, tapi sungguh sangat sulit diterapkan. Ini seperti berlatih memanah tiap hari demi mendapatkan hasil terbaik: tepat pada sasaran. Konsisten ini mirip dengan tekun (bahasa Inggrisnya lebih mirip: consistence dan persistence). Bila tekun dalam bahasa Indonesia lebih terasosiasikan dengan ulet dan gigih, konsisten itu terus-menerus tanpa henti.  Sehingga lebih mendekati kontinuitas.

Semua hal di alam ini, ternyata bila konsisten dilakukan akan menimbulkan hasil yang minimal mendekati sasaran. Kita menjadi yang terbaik bagi diri sendiri, meski belum tentu menjadi yang terbaik di dunia. Misalnya kita belajar memanah, kalau kita konsisten melakukannya, minimal kita mampu memanah lebih baik dari kebanyakan orang lain. Tapi, saat ikut kejuaraan, belum tentu kita jadi yang terbaik atau juara. Bisa jadi ada orang lain yang lebih konsisten latihannya, lebih berbakat, lebih baik pelatihnya, lebih beruntung, dan faktor-faktor lain. Apa yang terpenting adalah kita menjadi “kita yang terbaik”, mencapai potensi diri tertinggi.

Seringkali orang menyerah di tengah jalan sebelum sesuatu selesai dikerjakan. Saya adalah jagonya. Maksudnya, jago menyerah di tengah jalan. Bahasa Inggrisnya “quitter”.  Dan ini juga yang menyebabkan jalan hidup saya belak-belok ke mana-mana.

Memang, kalau dimaknai positif apalagi melihat ke belakang, jalan hidup saya jadi “berwarna”. Kalau dijadikan buku, novel atau film, pengalaman hidup saya niscaya keren banget. Dengan ge-er, mirip-mirip cerita Supernova-nya Dewi “Dee” Lestari lah… Hehe. Dan itu juga yang menjadikan saya bersyukur meski seolah hidup saya jadi “labil”, meski insya ALLAH bukan “labil ekonomi”. 😀

Saya melihat, ada orang-orang yang jauh lebih labil daripada saya. Dan di tataran tertentu, saya sadar bahwa hidup saya ternyata diinginkan banyak orang. Memang, hanya ada satu-dua orang yang bisa mengungkapkannya secara terbuka dan verbal pada saya. Tapi saya tahu, dari pertanyaan, diskusi, atau bahkan sekedar pandangan mata atau tindakan lain, hidup saya ternyata adalah “rumput tetangga yang lebih hijau” itu. Sebagai contoh kecil, pembantu yang seringkali mencuri waktu menonton koleksi DVD/VCD saya di sistem bioskop rumah, tentu merupakan satu tanda kecil bahwa alhamdulillah saya sudah memiliki apa yang masih jadi impian orang lain. Dulu saya marah karena hak milik dan privasi saya dilanggar, tapi kini saya malah bersyukur. Saya malah secara verbal mempersilahkannya menonton agar ia tidak sembunyi-sembunyi lagi.

Konsistensi dalam hidup seringkali menyakitkan dan melelahkan. Dihina, diremehkan, tidak dipedulikan orang lain, berjuang sendirian dalam arti harfiah, dikhianati bahkan oleh mereka yang paling dipercaya, dan berbagai cobaan lain. Semua itu tidak boleh membuat kita lupa dari target. Walau tentu target ini juga harus realistis. Dengan berupaya mencapai “the best of me”, kita akan makin tahu target mana yang realistis dan mana yang cuma angan-angan.

Yuk, kita konsisten pada hidup kita sendiri. Tak ada yang akan lebih peduli pada Anda selain Anda sendiri.

Ilustrasi: baltyra.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s