Khotbah

khotbah di lapangan

Kalau Anda seorang yang taat beragama, sudah pasti sering mendengarkan khotbah. Dalam berbagai bentuknya, baik itu khotbah agama atau sambutan inspektur upacara, hampir pasti hal ini membosankan. Mengapa? Sederhana, karena si pengkhotbah memposisikan diri di atas yang dikhotbahi. Pengarahan atau petunjuk pimpinan pun masuk kategori ini.

Sangat jarang pengkhotbah yang mampu berinteraksi dengan audiensnya. Apabila tidak diperbolehkan, maka justru kemampuan pengkhotbah yang diandalkan. Ini semata untuk menjaga agar audiensnya tidak kehilangan minat. Ujungnya tidur.

Sebagai bagian dari public speaking skill, seharusnya seorang pengkhotbah menguasai dasar-dasar standarnya. Apabila tidak, maka sudah bisa dipastikan ia tidak mampu meraih perhatian audiens. Salah satunya adalah kemampuan memainkan intonasi suara. Orang yang berkhotbah cuma membaca teks atau datar saat bicara sudah pasti membosankan. Tapi jangan jadi salah kaprah dengan menaik-turunkan nada dan intonasi suara seenaknya. Orang malah bisa “sakit telinga” karenanya.

Isi khotbah juga penting. Setahu saya, khotbah agama seringkali membosankan karena content-nya yang itu-itu saja, diulang-ulang. Isinya cuma ancaman terhadap perbuatan dosa atau janji hadiah bagi kebaikan. Padahal, ada banyak dimensi dalam beragama. Saya sebagai penyuka sejarah sangat heran kenapa sangat jarang pengkhotbah atau khotib yang menyinggung soal sejarah agama. Bisa jadi sebabnya satu, karena mereka sendiri tidak tahu!

Dalam ritual khotbah agama Nasrani, kantuk masih bisa dihindari karena ada prosesi interaktif. Jemaat diminta berdiri dan bernyanyi misalnya. Sementara dalam Islam, terutama dalam khotbah shalat Jum’at, bicara “ssst” saja dilarang.

Di sini mustinya muncul kreativitas dari pengkhotbah agar suasana lebih hidup. Almarhum Uje misalnya adalah salah satu yang berhasil melakukannya. Juga Aa’ Gym. Saya juga pernah mendengar mereka khotbah Jum’at tetap dengan mengikuti norma tidak boleh melibatkan interaksi jemaah, termasuk tidak membuat mereka tertawa, tapi khotbahnya tetap asyik.

Karena itu, sebaiknya para pengkhotbah selain menyusun materi yang lebih menarik, juga melatih diri untuk bicara lebih baik. Banyak caranya kok. Kalau malas ikut pelatihan, bisa menonton video dari para pengkhotbah handal. Tujuannya kan satu: agar pesan kebaikan yang hendak disampaikan dalam khotbah bisa diterima oleh jemaah yang jadi audiens. Betul kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s