Superhero vs Antihero

superheroes vs villains

Kalau Amerika Serikat punya Superman, kita punya Sengman. Kalau mereka punya “emak-emak wow” (terjemahan ngasal dari Wonder Woman), kita punya Bunda Putri. Halah!

Kita tentu tahu, bahwa dua nama itu sekarang sedang ngetop di media massa. Kalau Anda termasuk yang malas mengikuti berita aktual, ya sudah. Saya tidak memaksa Anda untuk tahu kok. Tapi di sini saya cuma ingin mengulas secara santai mengenai kecenderungan menjadi superhero dan antihero dalam diri manusia.

Cerita-cerita dongeng masa kecil kita selalu mengetengahkan tokoh superhero. Baik yang benar-benar “jagoan abis” seperti Superman atau Gatotkaca, hingga yang kepahlawanannya kurang terlihat, sebutlah seperti cerita Cinderella atau Timun Mas. Semua intinya menunjukkan bahwa sifat baik seharusnya menjadi teladan utama perbuatan kita sehari-hari.

Tapi benarkah kita mampu meniru hal yang terlihat mudah itu? Ternyata sama sekali tidak.

Dari tayangan reality show di televisi, kita tahu program semacam “Toloong” kesulitan mendapatkan superhero tadi. Tidak perlu terbang, tidak perlu melawan monster, tidak perlu menyelam ke dalam laut, cukup mengantarkan seorang nenek pulang ke kota sebelah atau membeli seikat koran seharga agak lebih mahal dari biasanya. Ternyata, hampir tidak ada yang mau jadi superhero.

Itulah kenapa seorang superhero itu “orang aneh”. Saya trenyuh melihat film Hancock (2008), menceritakan seorang superhero yang kehilangan penghargaan masyarakat hingga jadi gelandangan. Atau film Jumper (2008), mengenai orang-orang yang mampu berpindah tempat dalam sekejap tapi malah dianggap musuh masyarakat. Belum lagi X-Men (2000), tentang para mutant yang dipandang sebagai musuh manusia.

Apa yang sering terjadi adalah tindakan-tindakan antihero, persis seperti Sengman dan Bunda Putri tadi. Kita cenderung mencari pembenaran untuk suatu tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan hukum dan aturan atau melanggar norma, tapi dilakukan oleh diri sendiri atau kelompok sendiri. Teori  Valdesolo dan DeSteno (2008) yang dirangkum dari observasi eksperimen psikologi perilaku membuktikan hal ini. Kalau orang lain mengambil barang milik bersama, itu salah. Tapi kalau kita yang mengambil, ya… kan kita memang lagi butuh. Lagian cuma pinjam kok… nanti jugadikembalikan.

Tindakan antihero ini banyak sekali. Mulai dari mengabaikan atau menolak mereka yang minta pertolongan langsung kepada kita, sampai membuang-buang apa yang orang lain lebih butuhkan. So, sekarang terserah kita. Mau jadi superhero atau antihero?

Catatan: Keterangan tentang studi Valdesolo dan DeSteno saya dapat dari artikel tulisan Kristi Poerwandari berjudul “Wajah Terburuk” yang bisa dibaca di Rujukan Bhayu.

Foto ilustrasi: kamenrider.wikia.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s