Ini Kenyataan, Bukan Tulisan!

Simon Ross-Jason Bourne

Simon Ross (Paddy Considine) dan Jason Bourne (Matt Damon) dalam film Bourne Ultimatum. Foto: imdb.com

Ada satu kalimat dalem yang dikatakan karakter Jason Bourne kepada Simon Ross dalam film Bourne Ultimatum (2007): “Ini Kenyataan, Bukan Tulisan!” Dan karena sesuai dengan situasi saya, itulah yang saya jadikan judul tulisan kali ini. Konteks pengucapan kalimat tersebut di film itu adalah saat Simon Ross yang jurnalis kenamaan The Guardian-Inggris terancam hidupnya oleh agen-agen CIA tempat Bourne pernah bekerja. Itu karena ia mengungkapkan banyak rahasia busuk dinas intelijen AS itu dan menuliskannya di koran tempatnya bekerja.

Itulah yang saya rasakan akhir-akhir ini. Ada kejadian yang mengancam nyawa saya secara langsung. Terus-terang, saya belum pernah mengalami hal ini sebelum fase kehidupan sekarang. Gara-garanya, saya berpisah secara tidak baik-baik dengan pasangan saya. Ia yang dulu staf biasa kini sudah jadi “pejabat”, lupa bahwa sayalah yang mendukung karirnya. Bahkan pekerjaannya pun dulu saya yang mencarikan. Di saat sudah di “atas”, ia bertemu dengan pria lain yang juga sudah di “atas”.

Dan pria lain inilah yang kemudian mengirimkan ancaman nyata kepada saya. Tentu saja, mantan pasangan saya membantahnya. Ini karena saya tidak berkomunikasi langsung dengan PIL (Pria Idaman Lain, bahasa halus selingkuhan)-nya jadi cuma bisa mengkonfrontasikan fakta kepadanya. Tapi faktanya, dua kali saya berhadapan dengan preman dan yang terbaru terjadi baru kemarin. Memang saya menghindari kontak langsung dengan preman itu. Tapi mudah ditebak siapa pengirimnya. Apalagi yang pertama jelas-jelas mobil saya dihadang di tempat parkir di lokasi yang sama seusai saya bertemu dengan mantan pasangan saya. Huaduh!

Kenapa saya menduga begitu? Karena saya tidak punya masalah dengan pihak lain. Saya tidak punya kredit macet atau hutang satu sen pun pada pihak lain, apalagi lembaga pembiayaan seperti bank. Jadi, tidak mungkin orang-orang berbadan besar dari kawasan Indonesia Timur itu debt collector alias penagih hutang. Lha wong saya tidak punya hutang kok, apa yang mau ditagih? Makanya, dugaan terbaik para preman itu adalah “teman-teman” mantan pasangan saya atau suruhan si selingkuhannya.

Kenapa tidak lapor polisi? Tidak. Pertama, karena malas dengan kerepotannya. Kedua, polisi akan merembetkan kasus ke mana-mana. Saya yang melapor bisa jadi akan jadi terlapor atau tersangka dengan dugaan yang dicari-cari. Ketiga, saya sendiri masih eman pada mantan pasangan saya. Kasihan, ia anak orang yang punya pekerjaan dan karir cemerlang. Itu bisa hancur kalau saya membuat laporan polisi secara resmi.

Apa yang saya lakukan hanyalah tindakan pasif sebagai self-protection. Pertama, saya menghubungi kenalan saya yang polisi berpangkat perwira menengah. Kedua, saya langsung menghubungi kawan lama yang kebetulan kini menjabat sebagai Ketua Umum pimpinan pusat sebuah organisasi massa (ormas) yang dikenal sebagai sayap para-militer dari sebuah ormas lain yang lebih besar. Intinya, saya meminta perlindungan kalau ada apa-apa. Ketiga, saya terpaksa shut-down lokasi kantor saya dan memindahkan ke tempat lain yang lebih aman. Keempat, secara pasif saya menghilangkan jejak dengan menyamarkan tempat di mana saya sekarang membaktikan karya saya. Karena selain sebagai usahawan, saya juga masih profesional perorangan yang bekerja untuk –bukan bekerja di- perusahaan milik orang lain. Jadi, kini saya berdiri di tiga kuadran Kiyosaki sekaligus= S, B & I. Saya cuma berpikir, alangkah bahayanya bagi saya dan kantor saya apabila preman-preman itu sampai tahu di mana saya berkarya membantu orang lain sehari-hari.

Apa yang saya tuliskan ini merupakan pengkristalan dari kenyataan. Dan seperti dihadapi Simon Ross dan diingatkan oleh Jason Bourne, apa yang saya hadapi ini real-life, bukan sekedar bacot. Maka, saya sempat marah saat seorang yunior saya di organisasi menanggapi SMS saya –yang sebenarnya salah kirim- dengan nada bercanda. Ini kenyataan Bung, bukan sekedar tulisan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s