TNI & Essential Minimum Force

Pesawat kargo (angkut) militer milik AU Rusia berjenis Antonov An-124-100 yang membawa 2 unit pesawat Su-30-Mk2 terakhir pesanan TNI AU tiba di Lanud Hasanuddin pada hari Rabu (4/9/2013) -- Foto: Kompas/Hendra Cipt0

Pesawat kargo (angkut) militer milik AU Rusia berjenis Antonov An-124-100 yang membawa 2 unit pesawat Su-30-Mk2 terakhir pesanan TNI AU tiba di Lanud Hasanuddin pada hari Rabu (4/9/2013) — Foto: Kompas/Hendra Cipt0

Hari ini, Tentara Nasional Indonesia berulang tahun ke-68. Ada perubahan cukup signifikan dalam kekuatan alutsista (alat utama sistem persenjataan) militer kita. Memang dalam periode kedua pemerintahan SBY ini, sejumlah pesanan dari berbagai negara telah selesai dan diantarkan kepada satuan pemakai. Operasional pun telah dilatihkan kepada awak yang akan mengoperasikannya sehari-hari di negara pembuatnya.

Dalam sambutannya di peringatan HUT TNI tadi pagi di Lanud Halim Perdana Kusuma, Presiden mencontohkan di TNI Angkatan Darat, sudah ada tank tempur utama, tank anoa, rudal pertahanan, roda antitank, heli angkut, heli serang, heli serbu beserta persenjataan dan amunisinya. Sementara di TNI Angkatan Laut, alutsista yang dimiliki ialah seperti kapal cepat rudal, pesawat patroli maritim, tank amfibi, dan tank multilaras taktis. Di TNI Angkatan Udara, juga sudah dilengkapi alutsista seperti pesawat angkut sedang jenis CN, helikopter combat SAR, pesawat tempur Super Tucano, Sukhoi Su-27 dan Su-30-Mk2, dan 24 unit pesawat F-16.

Saya memuji sekali kebijakan pembaruan alutsista ini. Seperti pernah saya tulis di blogdetik, seharusnya sebagai pemimpin ASEAN kekuatan militer kita di ketiga matra adalah yang terkuat di kawasan. Bahkan dari segi luas wilayah dan jumlah penduduk, saya berpendapat Indonesia selayaknya berhak punya senjata nuklir. Tapi nyatanya tidak. Walau dari segi peringkat menurut globalfirepower.com kita masih di atas negara-negara ASEAN, tapi sesungguhnya alutsista kita tidak begitu. SItus itu memperhitungkan hal-hal lain seperti kekuatan tentara cadangan yang bisa dimobilisasi dari rakyat biasa sehingga di Asia-Pasifik kita didudukkan di peringkat ketujuh, bahkan di atas Jepang. Di dunia, dari 68 negara di basis data situs itu, peringkat kita juga masih lumayan, terkuat ke-15 di dunia tepat di atas Iran.

Tapi benarkah begitu? Kekuatan alutsista kita secara faktual masih di bawah Malaysia dan Singapura. Di beberapa sektor juga kalah dari Filipina dan Thailand. Namun, tentu bila terjadi perang, yang dihitung bukan cuma itu. Faktor luas wilayah, sumber daya, juga jumlah penduduk juga berpengaruh. Karena itulah meski jumlah pesawat tempur dan serbunya lebih banyak dan lebih modern dari kita, Malaysia dan Singapura masih diletakkan di bawah kita dalam penilaian situs di atas. Artinya, meski punya alutsista keren, niscaya menyerbu dan mengalahkan SIngapura dalam perang jauh lebih mudah daripada mengalahkan Indonesia. Apalagi kita punya doktrin perang semesta dan perang gerilya yang bahkan jadi rujukan sekolah-sekolah militer terkemuka di dunia.

Terlepas dari pelik-melik soal pembelian yang “Ujung-Ujungnya Duit” alias rebutan komisi, saya pikir persoalan bangsa harus didahulukan. Bila memang ada penyelewengan soal ini, semoga lembaga berwenang seperti KPK dan PPATK bisa mengungkapnya. Tapi, penempatan tank tempur utama (Main Battle Tank) baru kita yaitu Leopard-2A4 dari Jerman dan helikopter tempur-serbu modern AH-64-E Apache buatan Amerika Serikat di Kalimantan niscaya akan meningkatkan efek penggentar (deterrent effect) terhadap negara tetangga. Belum lagi ditambah kehadiran IFV Marder, pelontar roket multi-laras MLRS Astros II, Meriam 155 mm Caesar, pesawat serang ringan Super Tucano dan helikopter multi-peran Mi-35 dan angkut-serbaguna Mi-27 jelas menambah “seram wajah” TNI kita bagi lawan.

Dampak positifnya adalah nama Indonesia akan disegani sehingga memudahkan dalam segala perundingan dan diplomasi internasional. Harapannya tentu TNI segera memenuhi “essential minimum force” (kekuatan minimal mendasar)-nya agar bukan hanya mampu melindungi rakyat, tapi juga membuat nama Indonesia sejajar dengan negara-negara maju. Apalagi selain sebagai pemimpin ASEAN, kita adalah anggota eksklusif APEC dan G-20.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s