Andai Kutahu

suckatlife

“Andai kutahu… kapan tiba waktuku…”

Lagu dari Ungu itu terngiang terus di telinga saya beberapa hari ini. Secara pribadi dan sangat subyektif, tanggal-tanggal ini krusial bagi saya. Ada rasa patah dan ingin pergi, hingga salah seorang sepupu saya yang sebelumnya jauh “dikirim Tuhan” untuk menguatkan saya. Karena saya bukan siapa-siapa, saya tidak merasa perlu menjaga pencitraan begitu rupa. Termasuk pula di sini menjadi “sok kuat”.

Terus-terang, di hadapan teman-teman sehari-hari, citra itu harus terus dijaga. Apalagi di kalangan tertentu dimana saya diberikan posisi panutan. Tapi bahkan seorang Nabi sekali pun menghadapi masalah, apalagi orang biasa seperti saya. Dan masalah itu terkadang terasa tak tertanggungkan karena posisi saya dalam hidup. Maka, maafkan saya bila saya menggunakan blog ini sebagai sarana untuk katalis.

Kemarin, tanggal 3 dan besok, tanggal 5, adalah tanggal yang monumental bagi saya. Keduanya terkait kejadian di tahun 1998 dan 2004. 3 Oktober 1998 dan 5 Oktober 2004. Bukan dengan mantan pasangan saya yang kemarin, tapi dengan yang sebelumnya.

Inilah jeleknya orang dengan IQ seperti saya. Saya mudah sekali mengingat detail. Dulu, sewaktu SMA pelajaran sejarah dan kimia saya sama-sama mendapatkan nilai 9 di rapor. Artinya, hafalan dan hitungan saya sama kuatnya. Detail mudah saya cerna dan rekam. Cuma, saya tidak suka mengejar prestasi akademik, melainkan lebih ke ekstrakurikuler. Tak heran, meski di beberapa mata pelajaran sempat mendapatkan nilai tinggi, saya juga sempat mendapatkan ranking ketiga dari bawah di kelas di masa berikutnya. Dan karena orangtua yang berada, saya malas mengejar beasiswa.

Soal tanggal, saya juga tidak seperti kebanyakan pria. Segala tanggal penting dalam kehidupan orang yang dekat dengan saya akan saya ingat. Bahkan detail-detail konyol seperti daftar belanjaan titipan pasangan atau orangtua pun insya ALLAH saya tidak akan lupa.

Nope, saya tidak sedang membanggakan kehebatan ingatan saya. Karena saya jelek di hal-hal lain. Misalnya soal nama. Saya sangat lemah di soal ini. Berkenalan 5 menit saja saya sudah lupa. Juga nama-nama teman-teman lama seperti teman SD, SMP atau SMA. Juga nama-nama guru. Duh, karena itulah saya termasuk orang yang agak malas menghadiri reuni.

Reuni itu selain soal ingatan nama yang buruk, juga membuka kesadaran bahwa begitu banyak yang telah jadi masa lalu. Sesuatu yang dulu berarti, kini tidak lagi. Sebutlah seperti PR, dulu sampai harus disetrap berdiri di muka kelas atau lari keliling lapangan bila terlambat. Tapi kini setelah dewasa, semua itu tidak penting lagi. Terlambat masuk kantor saja kita cuma “lapor” atasan via sms. Simple dan tidak menakutkan.

Apa yang jadi ketakutan saya adalah bila apa yang saya kerjakan dalam hidup tak cukup untuk bekal saat waktu saya tiba. Bukan dosa yang saya takutkan seperti lagunya Ungu. Tapi tidak dikenali dan tidak diakui oleh Tuhan. Istilah bahasa Jawanya, gak direken. Wah, itu jauh lebih mengerikan.

Ilustrasi: suckatlife.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s