Berita & Kehidupan

photographer & crowd

Membaca, melihat dan mendengar berita-berita di sekeliling kita, kerapkali membuat pusing kepala. Karena sebenarnya jauh lebih banyak informasi yang tidak kita butuhkan bagi kehidupan asli kita. Berita atau informasi itu paling-paling sekedar agar nggak “kudet” seperti iklan mie instan dan bisa “nyambung” saat bicara dengan teman. Yeah, pendeknya supaya nggak dibilang kuper lah…

Tapi cobalah pikirkan, apa kaitan dunia kita dengan penyelenggaraan Miss World, dengan kecelakaan yang menimpa AQJ putra musisi AD, dengan SBY dan kabinetnya, dengan Konvensi Partai Demokrat, dengan kebakaran di Kelapa Gading, dengan Islamic Solidarity Games, dengan… ah,  banyak lagi. Tidak ada kaitan langsungnya bukan?

Kita cuma sekedar tahu bahwa “oooo, ada ini, ada itu” di dunia besar. Tapi apa manfaatnya? Nyaris tidak ada.

Bagi seorang eks jurnalis dan masih merasa berjiwa jurnalis seperti saya, update berita masih terasa penting. Saya merasa “ikut terlibat” saat harus memotret kejadian di dunai besar. Minimal seperti sekarang, walau tidak lagi dituliskan di media mana pun, saya masih bisa melakukan “citizen journalism”.

Dulu, saya sering merendahkan mereka yang tak peduli pada informasi. Tapi kini, saya bisa memaklumi. Memang, dunia kecil kita jauh lebih penting bagi sebagian besar orang di dunia. Karena itu, bagi siapa pun yang masih mampu menyisihkan waktu, tenaga, pikiran, apalagi uang bagi dunia besar atau dunia kecil orang lain, Tuhan mengganjarnya dengan pahala besar. Itulah yang namanya peduli.

Cobalah Anda pikirkan, apa urusan kita kalau anak pemulung gelandangan di pojokan jalan kompleks rumah kita sakit perut, bahkan mungkin mati? Bisa jadi karena kelaparan, atau malah diare karena makan makanan tak sehat. Padahal, kita seringkali membuang-buang makanan. Dan, berapa sih harga obat diare? Kenapa kita tidak berikan pada mereka? Itu karena mereka bukanlah bagian dari dunia kecil kita. Padahal, saat anjing kesayangan kita sakit, kita akan segera bawa ke dokter hewan yang mahal, Anjing itu pun dulu kita beli dengan harga berjuta-juta karena ras dan makanannya pun bisa jadi lebih mahal dari makanan gelandangan yang manusia tadi.

Di fase kehidupan saya sekarang, seringkali saya keluar malam, baik dengan berjalan kaki, naik kendaraan umum atau naik mobil pribadi, semata demi mensyukuri bahwa kehidupan saya -betapapun saya merasa sulit- masih diberkahi Tuhan. Saya masih punya lebih dari satu properti tempat tujuan pulang. Walau secara teknis saya baru saja kehilangan satu properti kantor saya yang nilainya cukup besar kalau dirupiahkan. Kejadian ini sebenarnya secara bisnis paling memukul saya setelah kejadian dikhianati oleh pasangan hidup yang juga partner bisnis saya tahun lalu. Tapi, saya mencoba sekuat mungkin untuk bertahan walau terasa sangat sulit. Salah satunya adalah justru dengan menjaga hubungan baik dan membuka peluang terjalinnya hubungan baru dengan sesama manusia.

Kalau Tuhan mengizinkan, hari ini insya ALLAH saya akan mengadakan perjalanan ke luar kota. Untuk sebuah acara yang bagi saya juga tidak terkait langsung dengan kehidupan saya, tapi penting demi menjaga hubungan baik. Karena yang empunya acara adalah salah satu investor saya. Soal hubungan baik ini yang kerap kali saya abaikan selama ini.

Kemarin, saya juga menjenguk sepupu saya di sebuah rumah sakit. Kami selama ini hampir tidak pernah berkomunikasi intens, selain basa-basi belaka. Tapi kemarin, selama 3 jam terungkaplah bahwa sebenarnya problema kehidupan kami mirip dan bisa saling mengisi. Ada banyak sisi yang selama ini tersembunyi -baik sengaja atau tidak- dari pencitraan di hadapan publik. Dan terus-terang, saya cukup gembira bisa membuka diri dan sebaliknya menerima pembukaan diri sepupu saya itu. Di saat bersamaan, saya teringat pada sepupu saya lainnya yang baru saja ditinggal meninggal oleh suaminya. Namun, karena yang bersangkutan yang justru “menjaga jarak”, maka saya juga tidak bisa memaksakan diri “masuk”, walau saya tahu sebenarnya ia butuh teman.

Kerapkali, problema hidup terasa lebih mudah bila diceritakan kepada orang lain. Masalahnya, tidak kepada sembarang orang saya bisa bebas bercerita. Di sisi lain, mendengarkan masalah orang lain juga membuat kita menyadari bahwa ternyata Tuhan masih sayang kepada kita. Demikian pula dengan mengetahui berita-berita di dunia besar yang kita diami bersama, setidaknya membuat kita sadar bahwa di hadapan Tuhan, kita bukanlah siapa-siapa. Kita cuma 1 titik di antara 7 milyar titik lain di hamparan planet ini.

Apa yang membuat kita istimewa adalah karya kita. Apa yang kita kerjakan bagi sesama, baik bagi dunia besar kita maupun dunia kecil orang lain. Karena bila kita cuma memperjuangkan dunia kecil kita masing-masing, itu mah biasaaaaa banget.

Foto: bbc.co,uk/Ian Hardy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s