Variabel Kehidupan

life in danger

Bagi seorang dengan tipe Dominant dari DISC dan Choleric dari CIMP, seringkali jadi masalah saat ada sesuatu yang tidak saya kendalikan. Tentu, saya rasional. Ada hal-hal yang saya tahu mustahil dikendalikan. Sebutlah seperti cuaca atau kemacetan. Tapi saya selalu berusaha membuat antisipasinya. Teman-teman SD saya mungkin tahu selalu ada payung kecil yang dibawakan Ibu saya -yang juga D & C- di tas saya. Hingga kini, mobil saya pun penuh dengan perangkat P-3-K baik untuk diri sendiri sebagai manusia maupun untuk mobilnya bila mengalami sesuatu. Untuk kemacetan, saya selalu berusaha berangkat lebih awal tentunya.

Namun, bila antisipasi itu masih meleset, saya biasanya punya rencana cadangan. Orang-orang terdekat saya tahu, bahwa saya bahkan bisa punya sampai Plan F alias 6 rencana cadangan. Tentu tidak sefantastis Plan Z atau 26 rencana cadangan. Saya tidak tahu kalau ada orang yang secara pribadi -bukan dalam kapasitas bagian dari perusahaan atau institusi- punya backup plan sebanyak itu.

Celakanya, bila rencana cadangan itu masih tak bisa dipakai juga. Barulah saya biasanya panik. Tapi tentu saja kepanikan itu seringkali tidak tampak nyata di hadapan orang lain. Di sisi inilah saya terus belajar, bahwa sebenarnya dalam hidup, variabel kehidupan sebagian besar justru tidak berada di tangan kita sendiri. Bisa di tangan orang lain, atau malah di tangan Tuhan karena begitu misteriusnya.

Contohnya seorang produsen tempe, tentu menguasai banyak hal terkait industrinya. Tapi hal terpenting justru ia tidak kuasai: kedelai sebagai bahan bakunya. Ternyata, porsi terbesar kedelai di negeri kita masih diimpor. Maka, ketika indikator ekonomi makro melemah termasuk menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar, harga kedelai terimbas naik. Juga variabel lain termasuk cuaca dan saluran distribusi termasuk pemasaran.

Selain soal usaha, seringkali juga hal-hal lain dalam hidup begitu tidak terkendali variabelnya. Contohnya saat kita sudah mengerjakan sejumlah langkah untuk menuju suatu pekerjaan, justru gagal cuma karena kelalaian atau kecerobohan pihak lain yang tidak hati-hati. Kalau Anda melihat film-film komedi slapstick, adegan macam ini banyak. Misalnya seorang koki yang sudah capai membuat kue tart, lantas tersandung oleh kaki seorang anak kecil atau terkena bola sehingga ia terjerembab dan kuenya hancur.

Ini sekali lagi terkait dengan kepribadian seseorang. Dulu sekali,pakar SDM Indonesia yang Presiden Direktur Experd Ibu Eileen Rachman pernah berkomentar pada tulisan saya, ia tidak tahu bahwa kepribadian bisa berubah. Ya. Memang bisa. Tapi sangat sulit. Saya sendiri contohnya. Agar tidak terlalu jengkel pada hidup yang seringkali tidak berada dalam kendali, maka saya harus melunakkan kepribadian D dan C saya. Walau tentu tidak bisa berubah 100 %, tapi setidaknya kadarnya berkurang. Karena terus-terang kalau tidak begitu, saya yang sudah ultra-depresi ini bisa kehilangan kewarasan. Hehehe…..

Ilustrasi: www.firstseniorfinancialgroup.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s