Keinginan & Kebutuhan

Needs_and_Wants.295221839_stdMakin tua usia seseorang, bila bukan hanya usia fisik yang bertambah tapi juga kedewasaannya, maka biasanya akan makin sedikit punya keinginan. Saya yang belum lagi 40 saja sudah nyaris tak punya keinginan. Kalau sukses itu bagi saya proses. Artinya dijalani saja. Minimal saya sedang berusaha mencoba ke arah sana.

Tapi keinginan seperti rumah, mobil, berlibur ke luar negeri, bahkan punya pasangan saja saya sudah tak ingin lagi. Memang, ini subyektif karena ada pengalaman traumatis dalam hidup. Saya cenderung jadi apatis. Bedanya, saya apatis ke dalam, bukan ke luar. Artinya, mentang-mentang tidak ingin apa-apa lagi bukan berarti saya lantas berdiam diri dan tidur saja seharian. Sehari-hari, saya tetap berupaya dan berusaha seoptimal saya bisa. Tapi, saya tidak lagi menginginkan hasilnya. Ini karena saya merasa mengharapkan hasil kerap kali berbeda dengan hasil nyatanya. Ada semacam harapan yang tak tercapai. Jadi, saya sekarang memilih meniadakan harapan dulu sebagai bentuk terapi kekecewaan pada hidup.

Apa yang coba saya terus perjuangkan adalah kebutuhan. Di sini, ada kebutuhan hidup standar bagi saya pribadi dan bagi orang-orang yang dalam tanggungan saya termasuk pegawai. Maka, ketika terjadi suatu kerugian, pilihannya adalah menutupinya dengan keuntungan di sektor lain atau memotong kerugian (cut loss). Itulah yang terjadi pada saya. Kecewa berat pada hidup karena saya merasa dizalimi dan diperlakukan tidak adil memang sedikit banyak membuat Tuhan jatuh kasihan. Bahkan Ia berkenan menunjukkan kasih-Nya kepada saya secara nyata (baca kembali tulisan Tanda Kebesaran ALLAH SWT tanggal 12 Agustus 2013 lalu).

Akan tetapi saya tahu, bahkan Rasulullah sendiri masih harus memanggul karung gandum sendiri ke pasar untuk dijual. Bahkan Nabi Sulaiman a.s. yang kaya-raya harus meminta bantuan raja jin untuk memindahkan singgasana Ratu Bilqis dalam semalam. Bahkan Nabi Yusuf a.s. yang tampan dan baik-hati saja banyak musuhnya. Bahkan Nabi Isa a.s. yang sabar saja bisa marah pada orang Samaria.

Artinya, berkah Tuhan memang ada. Tapi bukan berarti orang yang diberkahi Tuhan lantas bisa berleha-leha tanpa ikhtiar. Nabi Nuh a.s. saja berdakwah puluhan tahun cuma dapat pengikut belasan orang.

Itulah ujian Tuhan. Manusia memang diciptakan penuh dengan keinginan. Namun kemampuannya mendahulukan kebutuhan itulah yang justru membedakannya dengan hewan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s