Surga & Wanita

wanita-solehah-dan-durhaka

Dalam semua agama terorganisir (organized religion), diyakini adanya surga sebagai “tempat tujuan akhir” manusia. Meski namanya bisa berbeda, namun surga merupakan tempat yang “serba enak” dan “serba ada” karena merupakan balasan bagi kebaikan manusia semasa hidup di dunia. Kitab-kitab suci tak jarang juga menyebutkan gambaran fisiknya seperti bangunan supermewah berfasilitas superlengkap, bahkan lengkap dengan “bidadari”-nya.

Kaum feminis seringkali mengkritik ini sebagai justifikasi bahwa agama itu tak lebih sebagai monument patriarkhis. Tapi saya tak sependapat. Karena para orang suci sebagian besar adalah pria, maka wajar saat berkomunikasi Tuhan “mengiming-imingi” dengan wanita. Selain itu, ada sifat kodrat bawaan bahwa pria ingin menguasai dan memiliki, sebaliknya wanita ingin mengabdi dan melayani. Maka, agak aneh kalau wanita diimingi-imingi dengan “bidadara”, karena bagi mereka itu tak penting benar.

Sebenarnya, surga adalah gambaran superlatif dari dunia kita saat ini. Dengan kemajuan teknologi, kita bisa melihat bagaimana bangunan yang benar-benar “mencakar langit” seperti Burj-al-Dubai berdiri tegak. Saya ingat atasan saya sewaktu bekerja di majalah Mens Health Indonesia pernah berkesempatan menginap di sana berkat sponsor sebuah perusahaan penerbangan. Ia lantas menceritakan bagaimana mewahnya kamar yang ia tempati. Salah satu kemewahan itu adalah seluruh perabot kamar mandi termasuk kerannya terbuat dari emas asli. Padahal, kelas kamar yang ia tempati masih terkategori rendah, bagaimana pula yang presidential suite?

Kelihatannya itu hebat? Tidak. Di masa kejayaan berbagai kerajaan kuno seperti Babylonia, Mesopotamia, Romawi bahkan di Nusantara ada Sriwijaya dan Majapahit, emas-permata itu barang biasa. Cermati saja pemberitaan hilangnya empat artefak berbahan emas murni dari Museum Nasional. Tanpa memperhatikan nilai sejarahnya dan hanya nilai bahannya saja, harganya sudah mahal.

Saya lantas teringat lagi pada pemberitaan para wanita Ahmad Fathanah (AF) yang dihadirkan di sidang Pengadilan Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) hari Senin (16/9) lalu. Dari perhitungan atas pengakuan para saksi, terdakwa AF menghabiskan tak kurang dari 1,2 milyar untuk memanjakan beberapa orang wanitanya. Misalnya untuk model majalah dewasa Andi Novitalia alias Vitalia Sesya, AF pernah membelikan gelang berlian seharga 37,5 juta. Itu baru salah satunya lho…

Apa yang saya herankan, penampilan luar AF adalah seorang yang sangat taat pada agama. Bahkan, ia kader dari partai politik yang mengklaim sebagai partai dakwah. Namun, tampaknya penggambaran surga di akherat kelak yang akan memberi kenikmatan kekal termasuk para “bidadari” tak membuatnya mampu menahan diri.

Manusia sedari dulu memang amat tertarik pada kemewahan dan kenyamanan. Karena itulah Tuhan menciptakan surga sebagai “iming-iming” atau bahasa pemasaran-nya gimmick. Namun, imbalan menggiurkan itu hanya bagi manusia yang mampu mengumpulkan tabungan pahala luar biasa dan mengendalikan diri dari bujukan duniawi. Bukan mereka yang memanjakan wanita non-muhrim dengan harta hasil curian.

Ilustrasi: cahayawahyu.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s