Percaya Diri

lebih-percaya-diriDalam banyak kesempatan berbeda, saya bertemu dengan aneka macam manusia. Mungkin tidak sebanyak para figur publik, tapi cukup untuk mengerti bahwa manusia itu rupa-rupa warnanya. Persis seperti balon dalam lagu “Balonku” ciptaan A.T. Mahmud.

Setiap manusia punya kadar “Percaya Diri” (biasa disingkat PD) yang berbeda. Ada aneka macam manusia yang secara umum dari penampilannya saya bagi menjadi empat saja: kurang PD, cuek, PD dan over-PD. Kurang PD biasanya merupakan sikap yang menunjukkan inferioritas, merasa kurang berharga dibandingkan orang lain. Ini kemudian mengejawantah dalam sikap seperti malu, tidak mau maju dan sebagainya. Cuek merupakan sikap yang tidak peduli pada apa pun, termasuk soal PD. Ia bisa tampak bagus karena tidak terlalu mendengarkan omongan orang lain, tapi di sisi lain juga  bisa negatif karena cenderung abai pada penampilan (appearance) dan prestasi (performance). Misalnya saja ia tampil bersendal-jepit di sebuah acara resmi. PD adalah kondisi dimana seseorang “aman” pada dirinya, yakin bahwa dirinya eksis tanpa perlu memoles pencitraan berlebihan. Sementara yang terakhir adalah “over PD”, mereka biasanya lebay dalam bersikap atau bertutur-kata, tapi sebenarnya kondisi aslinya tidak begitu.

Kondisi terakhir ini seperti digambarkan dalam ilustrasi. Ia terlihat lebih gagah di dalam cermin, padahal aslinya nggak segitunya. PD atau dalam bahasa Inggris disebut self confidence, sangat terkait dengan konsep diri atau self concept. Bagaimana seseorang memposisikan dirinya di hadapan dunia membuatnya menampilkan posisi PD tertentu. Konsep diri terkait lagi dengan hal lebih fundamental yaitu harga diri individu atau self esteem. Orang yang self esteem-nya rendah akan berakibat pada dua kutub bipolar: menjadi kurang PD atau over PD.

Di kalangan tertentu, berkat motivasi dari para motivator –thank’s to you guys– justru over PD-lah yang lebih mengemuka. Saya kerap kali bertemu orang-orang semacam ini, yang bertemu orang lain dengan membusungkan dada dan meninggikan dagu. Memperkenalkan diri dengan sangat percaya diri, bicara dengan berbunga-bunga, tapi saat saya konfirmasi beberapa hal, kosong. Sayalah yang kini belajar untuk tidak merendahkan orang lain, karena seperti berkali-kali saya tuliskan di sini, saya ini “si brengsek yang sombong”. Maka, meski saya tahu seseorang tidaklah sehebat pencitraannya, saya memilih diam saja. Paling-paling, saya malah menyiramkan bensin agar orang bersangkutan tambah “terbang tinggi”. Kalau dia masih punya nurani, biasanya akan sadar dan segera merendah. Tapi kalau tidak, ya tuambah tinggi positioning-nya. Biarkan saja. Satu saat akan ada pemburu yang menembaknya jatuh dari angkasa, atau mungkin petir yang menyambar dan membuatnya gosong. Hehehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s