Cium Tangan

letjen budiman cium tangan sbySebut saya sombong. Silahkan. Saya sudah sering menuliskan di sini saya memang sombong. So what? Tapi saya terus terang tidak pernah mencium tangan siapa pun, kecuali orangtua saya dan satu orang mentor saya. Beliau adalah seorang mantan menteri yang religius dan hingga kini masih besar pengaruhnya. Sementara bahkan kepada guru spiritual saya –seorang kyai yang waskita- (sepintas saya pernah menyinggung beliau dalam tulisan berjudul Kekasih Tuhan Palsu vs Sejati) dan beberapa orang lain yang juga saya anggap mentor, saya tidak pernah mencium tangan mereka. Juga saat saya bekerja di ESQ Way 165, pendiri dan pemiliknya yaitu Bapak Dr. (HC) H. Ary Ginanjar Agustian begitu didewakan oleh semua pegawai. Saya adalah satu-satunya pegawai yang tidak mencium tangan beliau saat bertemu. Saya hanya melakukan “salam semut”, yaitu salam ala Timur Tengah yang sebenarnya “cipika-cipiki” tapi ditambah genggaman tangan seperti salam komando. That’s it.

Beliau-beliau ini padahal sangat dihormati bahkan didewakan. Hingga semua orang yang bertemu dengan mereka selalu mencium tangan. Lalu kenapa saya tidak?

Ada alasan. Dan itu kuat karena dari hadits. Anda mungkin jarang membacanya karena memang para kyai apalagi sekedar guru ngaji jarang mengemukakannya. Hadits ini berisi larangan untuk berdiri dari jama’ah yang sudah datang lebih dulu saat seseorang lain yang lebih dihormati masuk ke masjid. Dalam hadits ini bahkan orang lain itu adalah Nabi sendiri.

ما كان شخص أحب إليهم رؤية من النبي صلى الله عليه وسلم

وكانوا إذا رأوه لم يقوموا إليه لما يعلمون من كراهيته لذلك

 “Tidak ada seorang pun yang lebih mereka (para sahabat) cintai saat melihatnya selain Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Namun, jika melihat Beliau, mereka tidak pernah berdiri karena mereka mengetahui kebencian Beliau atas hal itu”.

(Hadits riwayat Al-Bukhari Al-Adabul-Mufrad: 946, At-Tirmidzi: 2754 dan Asy-Syamaail:335, Ibnu Abi Syaibah 8/586, Ahmad 3/132 & 134 & 151 & 250, Abu Ya’laa no. 3784, Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykilil-Atsar no. 1126, dan yang lainnya. Shahih).

Kalau Anda pernah menonton film “Sang Pencerah” (resensi bisa dibaca di Resensi-Film.com), ternyata di masa KH Ahmad Dahlan hidup (1868-1923) di masjid pun tidak ada kesetaraan. Saat Sultan masuk ke dalam masjid untuk shalat, para jama’ah akan menyingkir memberi jalan dan menghaturkan sembah sungkem. Di dalam masjid pun ada ruangan khusus untuk rombongan Sultan dan para bangsawan yang terpisah dari jama’ah lainnya yang rakyat biasa.

Sungguh, kalau kita mencermati hadits di atas, tindakan tadi sebenarnya sangat bertentangan. Tapi itulah tradisi. Dan tradisi tidaklah mutlak. Ia bisa berubah dan diubah, baik alami seiring perkembangan zaman ataupun karena revolusi termasuk oleh para pelopor seperti K.H. Ahmad Dahlan.

Demikian pula dengan cium tangan. Itu adalah tradisi semata. Kalau boleh dibilang, itu adalah kelanjutan dari tradisi sungkem di masyarakat Jawa. Coba deh di Timur-Tengah sana, ada tradisi cium tangan tidak? Bila berdiri saja tidak boleh, semestinya cium tangan juga tidak.

Tapi sebagai tradisi sebagai tanda penghormatan, bukan berarti harus ditolak sama sekali. Silahkan saja kalau mau (walau saya tetap tidak mau). Ini bisa dilihat seperti cara orang Jepang memberi hormat dengan membungkukkan badan. Cuma, dilihat saja kepantasannya sesuai situasi, kondisi dan posisi pribadi saja .

Di sinilah terkadang pertimbangan seseorang saat memutuskan mencium tangan orang lain kurang pas. Seperti saat Kepala Staf TNI AD Letjen TNI Budiman mencium tangan Presiden SBY ketika dilantik hari Jum’at (30/8) lalu. Mungkin ini wujud rasa hormat, atau sebagai rasa terima kasih yang amat dalam, tapi lihatlah bagaimana tidak pantasnya hal itu. Seorang perwira militer berpakaian dinas kebesaran (disebut dengan Pakaian Dinas Upacara/PDU-1) melakukan “sembah sungkem” kepada seorang presiden negara republik yang demokratis. Kalau kita kerajaan atau kesultanan sih boleh-boleh saja, seperti terjadi di Thailand yang saat melakukan penghormatan kepada raja malah sampai ngesot. Apa Republik Indonesia seperti itu? Tidak tho?

Hadits dikutip dari : http://muslimafiyah.com

Foto dari: http://tribunnews.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s