Utari

Siti Oetari TjokroaminotoSiapa yang kenal nama Utari? Ini bukan Utari teman sekolah Anda lho… Ini Utari yang pernah menjadi istri Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia. Nama lengkapnya Siti Oetari, putri dari Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau biasa disingkat H.O.S. Tjokroaminoto. Generasi sekarang mungkin lebih mengenal nama ini sekedar sebagai nama jalan. Di Jakarta, jalan HOS Cokroaminoto ada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Tokoh ini sebenarnya berperan besar dalam hidup Soekarno. Karena sebagai “bapak kost”-nya, Tjokroaminoto yang merupakan pemimpin organisasi Sarekat Islam (SI) adalah juga guru politik Soekarno. Bisa jadi karena merasa berhutang budi, Soekarno menikahi Siti Oetari pada tahun 1921 saat ia masih di kost di rumah mertuanya itu di Surabaya. Saat itu usia Oetari baru 16 tahun, dan Soekarno belum lagi genap 20 tahun. Sayang, usia pernikahan tak berjalan lama. Hanya 2 tahun saja. Saat Soekarno kemudian pindah ke Bandung untuk berkuliah di Technischee Hooge School -cikal bakal ITB- pada tahun 1923, Oetari pun diceraikan olehnya.

Memang, peranan Oetari tidak banyak. Bisa jadi ia hanya sekedar “istri status” saja, karena darinya Soekarno tidak memiliki anak. Tidak ada yang tahu apakah Soekarno menjalankan peran biologisnya sebagai suami atau tidak, atau semata sebagai balas budi saja kepada ayah mertuanya. Karena memang di masa itu, sudah lazim anak perawan usia belasan dikawinkan. Bahkan usia 20 tahun sudah dianggap “perawan tua” bila belum menikah. Jadi, mungkin Soekarno bermaksud “menyelamatkan muka” Cokroaminoto dan Utari.

Kita kemudian tahu, Soekarno menikah 8 kali lagi. Total, Soekarno menikahi 9 orang wanita secara resmi. Walau ia juga menjalin hubungan dengan beberapa wanita lainnya. Ia memang dikenal flamboyan. Bukan cuma tampan dan tinggi, yang secara fisik digemari wanita, tapi juga pintar. Bukan hanya pintar dalam konteks cerdas intelektual, tapi juga pintar menyenangkan wanita. Bahkan tak kurang dari Marilyn Monroe -sang bintang seksi Amerika Serikat itu- sempat dimanjakan olehnya. Padahal konteks pertemuan keduanya adalah acara kenegaraan saat Soekarno menemui Presiden A.S. yang juga dikenal flamboyan, John Fitzgerald Kennedy.

Apa yang saya pelajari dari sisi kehidupan tokoh yang dikagumi banyak orang ini? Bahwa orang sehebat dia pun pernah gagal. Dalam konteks hubungan percintaan dengan wanita, sang maestro yang dikenal hebat dalam bercinta sehingga sering dianggap “lelananging jagat” ini pun pernah tak berhasil membina pernikahan. Bahkan bukan cuma dengan Oetari, tapi juga dengan Inggit Garnasih istri keduanya, ia juga kemudian gagal membina rumah tangga. Meski Inggit sudah “direbut”-nya, karena wanita ini masih berstatus istri orang saat dikenal Soekarno, itu tak membuatnya mampu berpaling dari istri ketiganya: Fatmawati. Toh, hanya ada satu wanita yang ditempatkannya sebagai “Ibu Negara”, yaitu Fatmawati. Dari wanita inilah kemudian ia mendapatkan sejumlah anak termasuk Megawati.

Bahwa tak ada gading yang tak retak, itu adalah sebuah keniscayaan. Bahkan bagi orang sekaliber Soekarno sekali pun.

Bhayu blogger Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s