Bagaimana Pecundang Menjadi Pemenang

Kemarin, saya berjanji akan menuliskan kisah yang saya baca dari buku John C. Maxwell, Talent is Never Enough. Terutama sekali terkait dengan judul di atas: “Bagaimana Pecundang Menjadi Pemenang”. Di bab 7 buku itu yang diberi judul “Kegigihan Menopang Bakat Anda”, ada kisah mengenai Vonetta Flowers. Kita mungkin tak begitu mengenalnya, walau kalau mau sedikit “iseng-iseng berhadiah” bisa googling. Dia dijadikan contoh oleh Maxwell karena ia punya kisah yang patut diteladani.

Vonetta Flowers bet com

Vonetta sudah menjadi atlet sejak berusia 9 tahun, dan saat ia mencoba ikut seleksi tim atletik A.S. di tahun 1996 pada usia 22 tahun, ia gagal. Apakah ia berhenti? Tidak. Empat tahun kemudian, ia datang ke Sacramento, California untuk mengikuti seleksi tim Olimpiade A.S. ke Sydney, Australia. Selama empat tahun itu, ia terus berlatih, termasuk menunda untuk menikah demi menggapai impian. Total ia berlatih selama 17 tahun dan tahun 2000 itu adalah kesempatan terakhirnya ikut Olimpiade musim panas. Karena bila menunggu 4 tahun lagi ia sudah berusia 30 tahun, usia yang terkategori tua untuk atlet. Tentu saja semua berharap ia akan sukses, tapi tidak. Ia gagal, ia jadi pecundang.

Saat ia sadar kondisi itu, ada kejadian aneh. Suaminya Johnny melihat sehelai selebaran di lorong stadion tempat seleksi. Itu adalah undangan seleksi ujicoba tim kereta luncur untuk Olimpiade musim dingin. Vonetta dengan enggan mengikutinya atas dorongan Johnny yang bersemangat. Vonetta tidak pernah tinggal di kawasan bersalju dan juga tidak mengetahui cabang olahraga kereta luncur, karena ia adalah atlet atletik. Namun ternyata, semua latihannya membuatnya bisa menguasai cabang yang baru itu, meski tetap harus melalui latihan dan ketahanan mental. Ia akhirnya bisa masuk dalam tim A.S. di Olimpiade musim dingin 2002. Dan yang mengejutkan semua orang, Vonetta yang berperan sebagai pengerem kereta luncur bersama pengendaranya Jill Bakken berhasil memenangkan medali emas!

Kisah ini memberikan pelajaran sederhana tentang aplikasi dari adagium: “bila satu pintu tertutup, jangan dipandangi saja dan disesali, tapi cobalah pintu yang lain.” Artinya, bisa jadi Anda kalah dan jadi pecundang di satu aspek atau episode kehidupan, tapi cobalah kesempatan yang ditawarkan aspek kehidupan di episode yang lain. Dengan ketekunan, kegigihan, dan percaya diri yang besar, Tuhan akan mengubah seorang pecundang menjadi pemenang!

Foto: bet.com

Bhayu blogger Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s