Bung Karno & Kemerdekaan Indonesia

Prisma edisi khusus SoekarnoSaya sedang getol membaca edisi khusus Prisma volume 32, no.2 & no.3, 2013. Majalah pemikiran sosial ekonomi yang sebenarnya berformat jurnal ilmiah ini membahas mengenai Bung Karno. Tema edisi ini adalah “Soekarno: Membongkar Sisi-sisi Hidup Putra Sang Fajar”.

Dari sekian tulisan yang ada, saya jadi merasa bodoh. Mengaku sebagai Soekarnois, ternyata banyak informasi tentang beliau yang saya belum tahu. Misalnya saja bagaimana ternyata Soekarno mengalah pada tuntutan Hatta dan Sjahrir sejak dini. Sebenarnya dwitunggal Soekarno-Hatta malah kalah erat dibandingkan kolaborasi Hatta-Sjahrir-Tan Malaka.  Juga begitu banyaknya konflik yang terjadi di awal-awal kemerdekaan Indonesia. Konflik yang berupa pertentangan konseptual ideologis maupun perebutan pengaruh dan kekuasaan.

Membaca itu semua, selain menyadari kebodohan diri sendiri yang memang pada dasarnya sudah bodoh ini (makanya kalau ada pembaca yang memaki penulis blog ini bodoh karena tidak sependapat dengannya, ya memang saya bodoh, lalu apa?), saya juga menyadari besarnya pengorbanan para pendiri bangsa kita. Tidak hanya waktu dan pemikiran, mereka menyerahkan diri seutuhnya demi berdirinya sebuah negara bernama Indonesia. Misalnya saat Soekarno muda diasingkan ke Ende, ia meninggalkan tanah Jawa tempat lahirnya dan jauh dari komunitasnya. Ia sampai membuat kelompok tonil (semacam teater) demi mengakomodasi pemikirannya.

Tidak cuma Soekarno, para pendiri bangsa lainnya juga demikian. Satu yang jelas, sama sekali tidak terbersit mengambil keuntungan materi dari posisi mereka. Kalaupun ada “pamrih”, semata agar ide dan konsep mereka bisa diterima dan dipakai oleh negara. Sebagai contoh, sangat terkenal cerita bahwa hingga akhir hayatnya Bung Hatta tak pernah mampu membeli sepatu Bally idamannya meski sudah menabung. Coba deh bandingkan dengan para pemimpin kita sekarang.

Maka, di 68 tahun usia negara kita, sudahkah kita meneladani para pendiri bangsa ini? Bahwa berbeda pendapat itu boleh, tapi yang terpenting adalah meletakkan bangsa di atas segala-galanya.

 

Foto: rimanews.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s