Karya Sastra Sendiri

writing toolsSewaktu dulu saya menjalin hubungan serius hingga hampir menikah dengan seorang mahasiswi Sastra Indonesia UI, kami berdua sering sekali bertukar karya sastra. Baik karya sastra milik orang lain untuk dinikmati, tapi terutama karya sastra sendiri. Puisi dan prosa, seringkali kami buat untuk mengekspresikan perasaan dan situasi saat itu. Bahkan tanpa setahu dosennya, beberapa cerpen tugas mata kuliah Penulisan Populer yang diasuh oleh Bapak Ismail Marahimin, sayalah yang membuatnya. Karena gaya bahasa kami serupa, bahkan dosen seahli beliau pun terkecoh. Kami berdua sama-sama menyukai “sastra tinggi”, dalam konteks yang menggunakan tata-bahasa yang “baik dan benar”, “nyastra” dan penuh metafor.

Kami berdua sama-sama suka karya-karya sastrawan Indonesia seperti Seno Gumira Adjidarma dan Dewi “Dee” Lestari. Tak heran, karya-karya kami banyak terpengaruh oleh mereka berdua. Sehingga cara bercerita dan gaya bertuturnya pun bisa dibilang mirip. Untuk karya sastra asing, karena kami berdua cuma lancar berbahasa Inggris ditambah sedikit Prancis dan Jerman, maka cuma dari tiga bahasa itu yang bisa kami cerna. Tapi, terus-terang 98 %-nya dari bahasa Inggris. Kami suka “fiksi serius” ala John Grisham, J.R.R. Tolkien dan J.K. Rowling, dengan sedikit tambahan dari beberapa karya sastra klasik. Tapi terus-terang, saya nggak begitu mudeng dengan karya-karya sastra besar penulis hebat seperti Shakespeare.

Kini, sudah lama saya tak menulis karya sastra lagi. Meski belum pernah tembus ke media massa, namun di mata kuliah “Penulisan Populer” tadi karya-karya saya -yang disamarkan menjadi karya AMP- mendapatkan pujian. Demikian pula dalam Forum Lingkar Pena, saat karya saya ikut diterbitkan dalam buku kumpulan tulisan.

Maka, seperti dituliskan Dewi “Dee” Lestari dalam kata pengantar untuk bukunya Filosofi Kopi (2012), menulis adalah “ventilasi”. Dan untuk itulah kemudian saya memutuskan untuk kembali menulis karya sastra. Salah satunya bisa Anda baca di rubrik “Fiksiana” dalam Kompasiana hari ini (klik link ini). Inilah salah satu cara menjaga “kewarasan” di tengah derasnya problematika hidup yang saya hadapi. Semoga juga bisa membuat pembacanya “got something” dari situ.

Selamat membaca dan berkontemplasi…

Ilustrasi : creative-writing-club-a.lewispalmer.prhs.schoolfusion.us

Bhayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s