Memaknai Sakit: Ujian Ketabahan atau Azab Tuhan?

Ambulans pengantar ibu-Bhayu

Ambulans penjemput Ibu saya. Berdiri di kiri adalah tetangga depan rumah orangtua saya yang sangat membantu. Beruntung orangtua kami tinggal di kompleks dimana kerukunan antar-warganya sangat baik.

Pada hari ini, Ibu saya dibawa kembali ke rumah setelah sekitar 3 pekan di Rumah Sakit. Pasca operasi khusus tanggal 27 Juli 2013 lalu, pemulihan akan dilanjutkan di rumah. Bagi keluarga kami dan Ibu saya, ini pengalaman pertama. Karena alhamdulilllah kami dikaruniai kesehatan luar biasa sehingga tidak pernah mengalami sakit seperti tipus atau demam berdarah. Namun, sekalinya sakit ternyata cukup parah sehingga harus menghabiskan biaya tidak sedikit. Kira-kira setara dengan harga mobil entry level, bahkan lebih mahal daripada “mobil perang” yang saya pakai sehari-hari. Masya ALLAH.

Saya cukup jengkel karena berdasarkan penelusuran ilmu laduni, saya menengarai Ibu saya dicelakai oleh orang yang merebut pasangan saya. Indikatornya sangat jelas, terdengar dentuman geledek (bahasa Indonesia resminya sih “guntur”) sangat keras di siang hari bolong yang cerah tanpa mendung -berarti juga tanpa petir- saat dokter dan tim paramedis hendak mengevakuasi Ibu saya. Terlalu keras untuk petasan karena sampai menggetarkan kaca dan dinding. Suatu efek yang secara fisika hanya bisa disebabkan oleh tembakan meriam/ledakan bom atau sonic boom dari pesawat tempur canggih, yang dua-duanya jelas tidak ada saat itu. Itu masih ditambah dengan mati listrik secara mendadak bersamaan dengan suara tadi, alhamdulillah menyala kembali cuma dalam beberapa detik dengan izin ALLAH setelah dido’akan. Walau dokternya sempat panik karena tepat dengan saat jarum suntik anestesi hendak ditusukkan.

Saksinya? Para tetangga yang berkerumun, sekitar 15 orang. Semuanya kaget dengan fenomena ini. Semuanya sontak mengucap “astaghfirullah”. Dramatis deh…

Insya ALLAH saya sudah melakukan “serangan balasan”, walau hasilnya tidak bisa dikonfirmasi di dunia nyata. Namun, insya ALLAH yang bersangkutan “sudah mendapatkan pelajaran”.

Kembali kepada kejadian yang dialami Ibu saya. Meski penyakitnya dipicu oleh serangan ilmu hitam, namun akibatnya fisik di dunia nyata. Maka, tindakan penanganan medis yang logis-rasional tetap dilakukan. Dengan layanan terbaik yang bisa kami dapat, syukur alhamdulilah banyak bantuan datang. Salah satunya, dokter yang mengevakuasi Ibu saya ke Rumah Sakit pada tanggal 17 Juli 2013 adalah teman masa kecil saya. Tanpanya, tak mungkin ibu saya bisa dipindahkan dari lokasi kecelakaan. Karena ada semacam “mafia ambulans” yang tidak memperbolehkan Rumah Sakit menjemput pasien dengan kondisi seperti dialami Ibu saya.

Tinggal saya dan Ibu-Bapak saya yang harus memaknai kejadian ini. Saya sendiri memaknai ini sebagai ujian ketabahan. Tapi bisa jadi ini juga azab Tuhan akibat kurangnya rasa syukur dari kami atas apa yang telah kami miliki selama ini. Saya hanya berharap semoga tidak hanya hikmah yang didapat, tapi juga ada perubahan dalam kualitas kehidupan kami setelah ini. Apalagi jelas-jelas kejadian ini karena dizalimi orang lain. Insya ALLAH. aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s