Ketika Kebaikan Tak Lagi Berarti

Saat kita mengalami masalah dengan pihak lain, biasanya energi dan fokus kita tercurah pada sumber konflik itu. Benturan yang begitu kerasnya apalagi dikompori pihak ketiga membuat bara menjadi api. Di saat kita mengedepankan energi negatif, biasanya sulit mencari solusi. Bahkan bila salah satu pihak berupaya positif sekali pun.

Kita biasanya menggeneralisir masalah, dan ini -menurut John Gray- cara Venus berkomunikasi. Misalnya seorang suami lupa membelikan telur pesanan istrinya sepulang kantor, istri akan mengatakan, “Kamu selalu lupa pesananku.” Dan sang suami -yang dalam istilah Gray disebut “orang Mars”- membalas secara matematis, “Selalu? Minggu kemarin aku tidak lupa kan?” Suami dan istri sama-sama merasa disepelekan dan tidak dimengerti oleh pasangannya. Tapi saya tidak mau menggeneralisir juga karena ini kasuistis dan sering tergantung pada kepribadian. Suami-istri yang sama-sama koleris biasanya akan mudah beradu argumen.

Kalau sore ini hilal terlihat, maka insya Allah besok adalah Ramadhan. Awal bulan yang penuh kemuliaan. Di “social media” bertebaran pesan dan status untuk menyambutnya, termasuk aneka jenis permintaan maaf. Tapi seringnya saya baca itu cuma basa-basi. Dan saya bahkan tidak menerima yang sekedar basa-basi sekali pun dari 2 orang yang punya dosa dan salah amat besar pada saya. Padahal, hingga kini saya terus melakukan kebaikan bagi mereka, baik langsung maupun tidak langsung. Untuk yang satu, saya masih membayari semua tagihannya dan rumah saya masih jadi gudang barang-barangnya walau ia sudah tertawa-tawa bersama pria lain. Untuk yang lain, tiap tanggal ulang tahunnya saya masih memperingatinya dengan cara “sedekah brutal” walau ia kini sudah di negeri orang. Saya juga masih “take care” pada anak-anak angkat kami, sementara ia sudah tak peduli karena mengurusi anaknya dengan lelaki lain.

Tapi apakah saya memaafkannya? Ya. Walau karena gengsi yang ketinggian mereka tak mau meminta maaf.

Untuk apa saya melakukan kebaikan bila tak lagi berarti?

Kebaikan tetap berarti, walau oleh yang diberikan kebaikan tak dianggap. Karena saya cuma mengharapkan balasan dari Sumber Segala Kebaikan, Yang Maha Baik, Pemilik Bulan Ramadhan Penuh Kebajikan, Sang Tuhan Sejati & Satu-satunya: ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s