Materi & Kuil Modern

Dunia memang cuma menyembah materi. Dalam hal ini, saya sangat kecewa. Tidak ada lagi proses penghargaan pada ketulusan, pengabdian dan semacamnya. Guru, aktivis sosial kemasyarakatan, rohaniwan, dan mereka yang menisbikan materi jelas masih ada. Sayangnya, saat hendak melakukan sesuatu karya kebajikan, tetap saja perlu materi. Misalnya untuk membangun rumah ibadah, tentu tidak cukup dengan do’a saja. Di sinilah mereka harus ‘menyerah’,  meminta sekedar kebaikan hati mereka yang berkelimpahan materi.

Untung saja agama mengajarkan berbagi. Sehingga ada semacam legitimasi bahwa di dalam harta kita ada hak orang lain. Di sini, kalau mau jujur, sebenarnya kita cenderung untuk tidak peduli pada orang lain.

Seperti saat ini, saya berada di salah satu mall termewah di Jakarta. Saya melihat pengunjungnya seolah menjadikan tempat ini “kuil modern”, dengan materi sebagai dewanya. Orang-orang lalu-lalang, sibuk dengan diri sendiri dan kerabatnya saja, Tak peduli pada orang lain. Bahkan, di restoran tempat saya makan saat menuliskan posting ini, ada sekeluarga yang memindahkan meja-kursi seenaknya tanpa peduli menghalangi jalan orang lain. Sikap tidak peduli pada kepentingan orang lain ini saya perhatikan begitu menggejala di Indonesia.

Makin tinggi status sosial seseorang, biasanya ia makin membuat jarak dengan orang lain. Tinggal di apartemen tanpa kenal tetangga atau di perumahan mewah dengan keamanan superketat, seakan ingin menegaskan: “Ini duniaku, bukan duniamu.” Karena itu, saya merasa amat terhormat masih ada orang-orang berkelimpahan materi yang masih mau berjuang di komunitas seperti TDA. Mereka tidak sekedar memuaskan hasrat diri dan kerabatnya akan materi, tapi masih mau berbagi. Itu jelas beda dengan kebanyakan mereka di sekeliling saya saat ini di “kuil modern”.

Saya  sendiri amaf sangat jarang ke “kuil modern” sejak dua tahun ini. Saya tak lagi ke pusat perbelanjaan untuk sekedar makan dan jalan-jalan, tapi memang ada keperluan untuk membeli sesuatu. Saya tidak lagi peduli pada simbol status semu. Meski kini alhamdulillah kualitas kehidupan saya meningkat, tapi sebaliknya saya malah makin bergaya hidup sederhana. Dan saya berharap semoga Tuhan menjaga saya agar tetap qona’ah dan istiqomah serta tidak sombong.

Aamiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s