Orang Lain Sebagai Cermin

Apakah orang bisa melihat wajahnya sendiri tanpa cermin?

Jawabannya jelas tidak.

Itulah gunanya cermin. Untuk memberitahu kita seperti apa wajah kita. Kalau zaman sekarang, mungkin malah lebih banyak lagi gunanya karena manusia sangat memperhatikan penampilan. Kalau tatanan rambut kita kurang rapih, kita bisa menyisirnya. Demikian pula kalau riasan wajah -terutama bagi perempuan- kurang chic, maka bisa dibantu dengan make-up. Malah bagi yang mengalami -maaf- kekurangan pada bagian wajah seperti sumbing atau semacamnya, bisa jadi baru tahu dari cermin.

Bagaimana bila tak punya cermin atau zaman dahulu saat belum ada cermin? Tentu dipakai benda-benda seperti cermin yang mampu memantulkan bayangan, sebutlah seperti permukaan air yang bening. Bagaimana bila itu juga tidak ada?

Maka, orang lain-lah yang berfungsi sebagai cermin. Orang lain -justru yang baik- akan memberitahu kita kalau-kalau ada kekurangan. Tidak hanya pada wajah kita atau penampilan secara fisik, tapi bisa jadi pada hal-hal lain seperti kepribadian, tingkah laku atau hal-hal internal lain. Memang, di dunia kita yang memiliki ‘kepribadian timur’, sulit untuk mengatakan kekurangan pada orang lain secara langsung. Malah, yang ada justru seringkali ‘bisik-bisik di belakang’ sehingga menimbulkan gosip dan fitnah. Kalau saya, cenderung untuk mencoba memberitahu langsung pada yang bersangkutan, meski dengan ‘membaca’ lebih dulu karakter dan kepribadian yang bersangkutan, sehingga akan tahu cara yang tepat untuk menyampaikannya.

Seringkali, ada orang yang memang sudah “bebal”, kalau kata orang Jawa “ndableg”. Dibilangin nggak mau karena merasa benar sendiri dus merasa sudah sempurna. Kalau ada orang-orang semacam ini, pilihannya cuma dua: dibiarkan saja atau diberitahu dengan cara menyanjungnya setinggi langit secara hiperbola, sehingga orang-orang akan tahu bahwa maksudnya adalah penggunaan majas ironi (ingat pelajaran bahasa Indonesia saat SMA?). Contohnya ada orang yang merasa huebat buanget ilmunya, sehingga saat bicara selalu menyombongkan diri sebagai pualing huebat, maka kita bisa tambah ngompori dengan menyebutnya “Profesor”, “Master”, atau “Suhu”.

Kalau dia tidak punya penyakit kejiwaan yang disebut “megalomania” atau “waham kebesaran”, maka niscaya dia akan tersentak. Tapi kalau punya, tuambah buesar sombongnya. Itu bak menyiram bensin ke atas bara api.

Seringkali, orang-orang sombong itu temporer. Ini penyakit kejiwaan lain yang bisa berupa narcisstic atau taraf tertentu dari keinginan diakui saja. Seperti seorang teman saya yang dulu saat saya persilahkan melihat di website saat bertanya pengalaman saya, ia menjawab sombong, “Gue gak pernah lihat punya lu. Ngapain gue lihat-lihat punya orang?” Saya saat itu diam saja dan mencoba membaca kepribadian dan karakternya. Lucunya, saat dia baru mulai blog yang isinya baru secuil, dia malah dengan bangganya bilang ke saya, “Lu baca aja tulisan di blog gue. Pernah gue tulis tuh soal itu…” Saat saya kenal dia lebih dalam, saya memaklumi karena dia ternyata anak bungsu yang kerap dibandingkan dengan kakaknya yang dianggap lebih sukses. Padahal, bagi saya dia sudah cukup sukses karena punya jabatan tinggi dan ekonomi stabil, juga keluarga yang harmonis. Tapi, rupanya rumput tetangga lebih hijau. Saya yang tadinya jengkel malah berubah jadi kasihan.

queen & mirror at snowwhiteCermin memang tak bisa bicara, tapi orang lain sebagai cermin terkadang menyakitkan. Memang, siapa sih yang mau dibilang jelek? Bahkan Ibu Ratu Grimhilde dalam lakon Snow White saja marah saat cermin bicara bahwa yang paling cantik adalah Snow White dan bukan dirinya. Kalau kita ‘normal’, saat orang lain memberitahukan kekurangan kita, maka seharusnya kita malah berterima kasih. Pertama, itu berarti dia peduli pada kita. Kedua, kita jadi bisa memperbaiki kekurangan itu. Tapi, kalau kita ‘tidak normal’, tentu malah marah besar dan ingin menyerang orang lain yang jadi pembanding itu. Yeah, seperti Ratu Grimhilde itulah….

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s