Memotivasi Diri Sendiri

Semua orang ingin sukses, tapi tak semua orang bersedia melakukan segalanya untuk mencapainya. Saya merasakan sendiri betapa sulitnya menapaki anak tangga demi anak tangga kesuksesan. Bagi saya, hidup sukses adalah apabila kita menghasilkan karya yang akan diingat oleh manusia beberapa generasi setelah kita, bahkan oleh mereka yang tidak mengenal kita semasa hidup. Sementara secara ukhrowi atau agamawi, sukses adalah saat nyawa kita dihela pergi dari badan, malaikat menyapa kita:

“Salaamun qaulam mirrabbirrahiim”, “Salam untukmu dari Tuhan Yang Maha Penyayang”. (Al Qur’an surat Yaasin (36) ayat 58).

Tidak penting segala jabatan, pangkat, status sosial, nama besar, kekayaan atau kehebatan kita di hadapan Yang Maha Hebat. Bayangkan saja begini, Anda dapat salam secara pribadi dari pimpinan suatu negara yang disampaikan ajudannya. Bangga tidak? Pasti bangga kan? Nah, ini dapat salam dari Tuhan, Maha Raja Diraja seluruh alam semesta. Bagaimana kita tidak merasa berkepenuhan bukan?

Namun, untuk bisa disapa pimpinan negara saja kita harus melakukan “sesuatu banget” dulu. Tentunya agar kita menjadi “seseorang”. Orang yang diundang ke istana pimpinan negara pasti bukan orang biasa kan? Apalagi orang yang dipersilahkan masuk istana Tuhan, dia pasti “sangat luar biasa”.
Justru dua sisi itulah yang selalu memotivasi diri saya sendiri untuk sukses. Karena bila kita mengejar pencapaian dunia saja, selalu ada “langit di atas langit” bila pembandingnya orang lain. Saya pribadi mengalaminya, jungkir-balik melayani seseorang yang saya hebatkan, ternyata balasannya cuma penghinaan. Dia pergi untuk bersama seseorang menapaki langit di atas saya. Padahal langit saya sendiri sudah naik, dibandingkan 8 tahun lalu misalnya.

Tapi karena saya ingat sisi kedua, saya justru mengamalkan ajaran agamanya yang tertuang dalam Lukas 6:29: “Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain. Dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.”. Karena saya mencoba mengambil posisi sebagaimana disebutkan dalam Ratapan 3:30: “Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan.”

Meski terus-terang saya sakit hati atas pengkhianatan dan penghinaan yang dilakukannya -apalagi kejadian 5 April 2013- yang dilakukannya di muka umum, namun saya percaya “Gusti Ora Sare”. Maka, malam ini pun saya kembali membayari tagihannya sebagai bentuk itikad baik saya, walau yang bersangkutan sama sekali tidak menunjukkan hal yang sama karena merasa diri di atas angin. Mungkin itu karena ia merasa sudah jadi -mengutip istilahnya sendiri- pejabat. Memotivasi diri sendiri untuk sukses duniawi memang sulit. Tapi jauh lebih sulit lagi memotivasi diri agar kita menjadi “seseorang” di mata Tuhan.

Catatan: Maaf bagi yang baru pertama kali berkunjung, kata ganti orang ketiga tunggal di atas merujuk kepada YPP, mantan pasangan saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s