Buku Amal

Malam ini adalah malam nisfu’ Sya’ban, salah satu malam yang penting bagi umat Islam. Sya’ban adalah nama bulan ke-8 dalam kalendar Hijriyah, sementara Nisfu artinya pertengahan. Jadi, malam nanti adalah hari ke 15 dalam bulan yang sedang berjalan (hari dalam kalender Islam dimulai saat matahari tenggelam atau waktu Maghrib karena menggunakan penanggalan berdasarkan Bulan/lunar system). Meski tidak wajib, namun disunnahkan melakukan ibadah lebih banyak di malam ini. Karena di malam inilah dipercaya buku amalan manusia selama setahun ditutup dan dilaporkan oleh malaikat pencatat kepada Tuhan. Ini ibarat dateline pelaporan rapor murid dari guru bidang studi kepada wali kelas, tentu bukan dengan maksud menyamakan kedudukan Tuhan menjadi serendah manusia lho. Saya hanya menekankan pada fungsi rapor. Apabila kita sekolah saja ada penilaian, juga saat bekerja, masa’ dalam hidup tidak ada? Maka, logis saja kalau kita percaya adanya “buku amal” sebagai “rapor kehidupan” manusia.

Sepanjang saya sekolah -alhamdulillah- tidak pernah mendapatkan nilai rapor merah. Pernah sih satu kali  nilai kimia saya di semester dua kelas satu SMA nyaris merah, tapi gurunya memberi kebijakan. Apa sebabnya? Karena beliau tahu saya bukannya tidak pintar dalam pelajaran, tapi karena sulit membagi waktu. Sebabnya, saya sangat aktif di organisasi ekstra kurikuler. Buktinya, di semester satunya nilai kimia saya 9. Akhirnya guru memberi kesempatan perbaikan dan nilai rapor saya naik dari 5 menjadi 7.

Kalau ingat itu, rasanya saya masih ingat rasa “deg-degan”-nya saat akan terima rapor. Murid-murid bukan hanya takut mendapatkan nilai merah, tapi juga takut tinggal kelas.

Tapi bagaimana dengan hidup?

Celakanya, kita malah seolah abai pada hidup yang penuh ujian ini. Termasuk saya. Kesempatan untuk memperbaiki nilai kita buang percuma. Apalagi kita malah menghindari ujian hidup, akibatnya kita tak kunjung naik kelas. Seringkali kita menunda kebaikan dan malah mempercepat keburukan. Coba deh, kalau kita menonton bioskop jam lima sore dan keluar jam delapan malam, akankah kita break sejenak untuk shalat Maghrib? Sewaktu saya melakukan perjalanan darat dengan bus dari sebuah kota di Jawa Tengah ke Malang pekan lalu, saya lihat hampir semua penumpangnya tidak shalat. Saya sendiri terpaksa melakukan shalat di bangku dan tidak saat istirahat makan. Sebabnya waktu yang hanya 30 menit hanya cukup untuk makan dan buang air besar setelah lebih dari 10 jam duduk di dalam bus. Saya takut tertinggal bus karena dulu sudah pernah mengalami. Maka, ketakutan itu menjadi alasan yang syar’i untuk melakukan shalat di kendaran sebagai musafir. Terus terang saya sempat malu juga karena seperti orang aneh melakukan aneka gerakan mirip menari saat duduk. Tapi, saya lebih malu pada Tuhan. Biar deh dikira orang gila atau aneh.

Saya yakin, andaikata saya dipanggil Tuhan detik ini, buku amal saya akan “kebakaran”. Shalat saya bolong-bolong, puasa berantakan, sedekah jarang, enggan menolong orang, apalagi seabrek dosa lain yang saya lakukan baik sengaja maupun tak sengaja. Dan beda dengan nilai rapor yang merah, saya malah masih menerapkan jurus “tar-sok” (entar-besok) saat hendak melakukan kebaikan. Padahal, buku amal saya setahun ini sudah ditutup. Duh Gusti, tolonglah hamba-Mu yang belagu ini. Jangan biarkan kelak hamba menerima buku amalan selain dari sisi kanan hamba di hari penghakiman kelak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s