Jakarta & Beban Ibukota

Tanggal 22 Juni diperingati sebagai hari ulang tahun Jakarta. Kota yang didirikan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda ini lebih tua dari usia republik. Sejak awal, ia memang disiapkan sebagai sebuah ibukota. Sayangnya, perkembangannya ternyata tak sepadan dengan kebutuhan warganya. Dalam hal ini, pemerintah tampak tergopoh-gopoh merespon pesatnya perkembangan perekonomian.

Tentu saja, sebagai ibukota, Jakarta menjadi magnet bagi banyak warga Indonesia. Di siang hari, populasi kota ini mencapai lebih dari 14 juta jiwa. Sementara di malam hari hanya sekitar 4 juta jiwa saja. Artinya, banyak sekali warga sekitar Jakarta yang mencari nafkah di ibukota.

Meski menggerakkan roda perekonomian, namun banyaknya pelaju (commuter) itu juga menimbulkan masalah, terutama di sektor transportasi. Tidak usah jadi ahli untuk tahu bahwa panjang dan lebar ruas jalan di Jakarta tak sebanding dengan volume kendaraan. Belum lagi kualitas transportasi umum yang jauh dari memadai membuat warga pemilik kendaraan pribadi enggan berpindah moda. Saya sendiri seringkali mengalami kesulitan dalam soal jadwal angkutan umum yang tak pasti, sehingga meski seringkali harus berhadapan dengan macet, saya memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi. Ini karena aktivitas saya memiliki mobilitas tinggi dari satu tempat ke tempat lain, beda dengan pegawai biasa atau pelajar yang hanya berangkat ke tempat tujuan untuk beraktivitas di sana hingga waktu pulang. Seringkali saya terlambat mencapai tujuan apabila memakai angkutan umum. Kecuali, tentu saja menggunakan ojek pribadi (Ya, saya sudah menemukan tukang ojek yang siap dipanggil sewaktu-waktu. Asyik kan? Hehe).

Beban Jakarta sudah seharusnya dikurangi. Bukan sekedar memindahkan ibukota sebagai pusat pemerintahan seperti wacana beberapa pihak saja. Tapi malah menurut hemat saya justru kita harus menyebarkan pusat-pusat perekonomian ke seluruh penjuru Indonesia. Ini bukan saja akan membangun negeri kita lebih pesat lagi, tapi juga mengerem laju urbanisasi karena warga kota lain sudah bisa mencari nafkah memadai di kota-kota selain Jakarta. Bila itu dilakukan -meski tidak semudah membalik telapak tangan- banyak problema beban ibukota akan terkurangi.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s