Malaikat Juga Tahu

Bagi penyuka lagu-lagu romantis, tentu tahu judul lagu di atas adalah ciptaan Dewi “Dee” Lestari. Setelah pertama kali dinyanyikan sendiri, untuk soundtrack film omnibus RectoVerso (2013) lagu ini dinyanyikan ulang oleh Glenn Fredly. Film yang diangkat dari novel berjudul  sama karya penulis yang sama itu berisi lima fragmen film terpisah yang berjalan paralel. (Resensi bisa dibaca di Resensi-Film.com).

Lagu ini diciptakan Dewi dalam masa galaunya menjalani proses perceraian dengan suaminya Marcell Siahaan yang juga penyanyi. Dari liriknya, kita tahu bahwa di sini yang terjadi adalah penciptanya merasa dikhianati cintanya oleh pasangannya. Seperti halnya Glenn Fredly, Dewi juga sangat produktif dan kreatif justru saat sedang galau.
Mari kita tinggalkan proses kreatif Dewi “Dee” Lestari dan Glenn Fredly. Saya justru ingin membahas mengenai makna filosofis yang disodorkan Dewi dalam lirik lagu tersebut, dan juga cerpennya (bagi yang ingin membaca cerpennya, pernah saya tulis ulang di blog ini tanggal 4 Mei 2013).

Kita tahu, Dewi “Dee” Lestaari berpindah agama dari Kristen Protestan ke agama Buddha. Ada beberapa prinsip ajaran agama asal India ini yang sulit ditemukan –setidaknya dengan gamblang- di dalam agama lain. Salah satunya adalah konsep selalu adanya kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya. Ini karena prinsip “tumimbal lahir” atau lebih dikenal sebagai reinkarnasi yang diyakini umatnya. Sejarah dunia –dan juga manusia- tidaklah linear, melainkan siklik. Memang, ada karma. Artinya, kalau kita berbuat keburukan dalam fase kehidupan yang sedang kita jalani sekarang, maka kita akan menerima balasan karma buruk. Kita akan dilahirkan kembali dalam keadaan atau kondisi yang lebih buruk daripada saat ini. Dan bisa memerlukan waktu ribuan bahkan jutaan tahun untuk memperbaikinya. Tapi, selalu ada kesempatan. Karena surga dan neraka itu tidak ada. Bahkan Tuhan personal pun tidak ada.

Dalam konteks ini, sebenarnya rancu membicarakan malaikat. Karena konsep malaikat tidak ada di agama Buddha. Ia hanya ada di agama Abrahamic saja. Namun, bisa jadi apa yang dibicarakan Dewi dalam lagu dan cerpennya adalah adanya situasi yang dialami manusia, namun tidak bisa dipahami sepenuhnya. Ada sesuatu yang terjadi, namun tak diketahui. Bisa jadi karena memang disembunyikan, atau nature (aduh, saya kesulitan mencari padanan katanya)-nya memang tersembunyi.  Sebutlah seperti urusan hati dan pikiran.

Kita manusia memang punya kemampuan itu. Beda dengan binatang. Kalau mereka ingin atau merasakan sesuatu, ya lakukan saja. Kita punya kemampuan berpikir, merasa dan menunda respon dari rangsang (stimulus).

Seseorang bisa mengatakan “Oh, tidak apa-apa kok” saat kakinya terinjak oleh Anda dan Anda meminta maaf padanya. Padahal dalam hatinya mungkin ia berkata, “Sialan nih, orang. Sakit tauk!”

Itu bukan munafik, meski definisi munafik adalah orang yang hati, pikiran, perkataan dan perbuatannya tidak selaras. Terutama ini terkait soal prinsip. Misalnya saja dalam rapat paripurna DPR membahas RAPBN-P 2013 kemarin. Ada anggota DPR yang diteriaki sebagai “tidak konsisten”. Itulah salah satu ciri “munafik”. Kalau kata peribahasa Jawa: “isuk dele, sore tempe” (arti harfiahnya: “pagi kedelai, sore tempe”, maknanya plin-plan atau orang yang mudah berubah pendirian).
Dalam soal cinta antara dua anak manusia dalam konteks romantika, tentu sering sekali terjadi perbedaan antara hati, pikiran, perkataan dan perbuatan. Beberapa bagus. Seperti halnya diajarkan Nabi Muhammad SAW saat menghadapi istri yang sudah susah-payah memasak. Meski masakannya tidak enak –misalnya keasinan-, sang suami harus tetap bilang enak dan mengucapkan terima kasih.

Namun, tidak pada tempatnya bila seseorang sudah punya pasangan lantas pergi dengan lawan jenis tanpa sepengetahuan pasangannya. Bahkan, dalam ajaran agama Islam seorang istri yang kedatangan tamu lelaki wajib menolaknya bila sang suami tidak ada di rumah. Tentu akan menjadi lebih tercela lagi apabila di luar rumah seseorang membuat janji temu dengan lawan jenis untuk urusan pribadi tanpa sepengetahuan pasangannya. Dan akan lebih parah lagi tentunya bila mengkhianati komitmen yang sudah dibuat. Di sinilah rupanya Dewi meletakkan konteks “peran malaikat” itu. Karena semua tindakan curang itu bisa jadi hanya diketahui pelakunya, malaikat dan tentu saja Tuhan. Namun seperti halnya Dewi, saya juga yakin, bahwa malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya. Mereka yang dikhianati pasti justru yang jadi juara di mata malaikat (dan Tuhan). Bukan yang mengkhianati. Itu sudah pasti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s