BBM oh BBM…

Kemarin, sepulang dari Malang, saya sengaja “tidak ke mana-mana” karena adanya informasi akan adanya demonstrasi besar-besaran terkait Rapat Paripurna DPR-RI tentang penetapan RAPBN-P (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara-Perubahan) 2013. Di dalamnya terdapat pula rencana “penyesuaian” harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang kontroversial. Pemerintah berdalih, subsidi BBM telah membebani anggaran negara. Namun, pencabutan subsidi ini akan berdampak pada naiknya harga BBM. Dan efek bola saljunya adalah kenaikan harga-harga di segala sektor. Meski pemerintah berencana memberikan BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) yang sebangun dengan BLT (Bantuan Langsung Tunai) di era pemerintahan SBY-JK dulu, tapi tentu beban hidup masyarakat tak bisa diatasi dengan itu.

Demonstrasi mahasiswa dan buruh serta elemen aktivis lainnya di ibukota dan kota-kota lainnya seakan tak berpengaruh. Para anggota DPR-RI yang mengaku wakil rakyat itu sama sekali tak mewakili aspirasi rakyat. Sidang paripurna yang digelar sejak pukul 11.00 WIB baru selesai menjelang pukul 24.00 WIB. Itu pun dengan mekanisme voting karena lobby antar fraksi gagal membuahkan kesepakatan. Hasilnya, pihak yang menerima kenaikan harga BBM menang dengan 338 suara melawan 181 suara yang menolak. Fraksi yang bulat menolak adalah PDI-Perjuangan, PKS, Hanura dan Gerindra. Sementara partai-partai koalisi juga kompak menyetujui. Sebagai efeknya, pemerintah akan menaikkan harga BBM jenis premium dari Rp 4.500,- menjadi Rp 6.500,- sementara solar naik dari Rp 4.500,- menjadi Rp 5.500,-. Sementara tanggal pastinya belum ditentukan dan akan diumumkan oleh Presiden.

Saya pribadi sedih dengan keputusan itu. Selain beban pribadi yang makin berat, tapi saya juga memikirkan beban rakyat. Apalagi posisi saya saat ini tidak dalam kapasitas mampu berbuat banyak dalam konteks mempengaruhi kebijakan negara. Saya sadar bahwa saya bukan siapa-siapa, cuma rakyat biasa. Karena itu, saya sebenarnya berharap adanya kemampuan berbagai organisasi memainkan posisinya sebagai kelompok penekan (pressure group). Sayangnya, saya melihat selain elemen mahasiswa, buruh dan LSM tampaknya tidak ada yang peduli. Sebutlah organisasi pengusaha besar seperti Apindo atau HIPMI, mustinya bisa memberikan masukan bagi pemerintah. Demikian pula partai politik yang cuma “bungkusnya doang” pro-rakyat, padahal mereka cuma memikirkan diri sendiri saja.

Terus-terang saya kini cenderung apatis pada isyu-isyu besar berskala makro seperti itu. Saya memilih “menyelamatkan diri sendiri” dulu. Karena dengan begitu, niscaya saya bisa berbuat lebih konkret pada lingkungan di sekitar saya. Daripada sibuk “omong besar”, lebih baik saya “bertindak kecil” saja. Walau tentu saya tetap peduli dan update info soal-soal itu, tapi tidak dalam konteks “aksi” lagi. Karena bagi saya, aksi yang sebenarnya adalah memberdayakan diri dan lingkungan sekitar saya. Seperti juga dilakukan banyak elemen masyarakat lain secara mandiri dalam kerangka “menyalakan lilin untuk memerangi kegelapan”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s