Berbisnis atau Cari Nafkah?

Seringkali saya bingung, ada beberapa orang yang semata menjadi reseller atau agen dari suatu perusahaan, tapi sudah mengklaim “memiliki bisnis”. Sebenarnya, “berbisnis” itu adalah kata kerja aktif transitif dari kata benda tak tentu “bisnis”. Di sini, ada faktor kerja  hakiki atas kata benda tersebut. Misalnya kata bersepeda berarti mengayuh sepeda. Tidak bisa kita bilang “saya bersepeda” tapi faktanya kita cuma duduk-duduk saja di rumah.

Itu berarti kalau kita bilang “saya berbisnis kuliner”, saya liris harus benar-benar melakukan sesuatu dengan kuliner itu. Bisnis berarti melakukan sesuatu yang sifatnya memberikan nilai tambah. Apabila kita hanya menjual ulang barang yang diproduksi oleh pihak lain, itu namanya berdagang. Berbisnis berarti ada faktor “menjalankan bisnis” dan faktor kepemilikan di situ. Saya ambil contoh gamblang. Ada produk namanya “bubur ayam”. Kalau kita membuat sendiri bubur ayam itu dan menjualnya sendiri ataupun menyuruh orang lain menjualkan dengan imbalan tertentu, itu berarti kita memang berbisnis bubur ayam. Tapi penjual yang tidak memiliki sendiri gerobak atau sepeda dan perlengkapan lain dan hanya menjualkan produk bubur ayam milik majikannya adalah pekerja atau pegawai atau buruh. Sementara kalau kita mengambil bubur ayam dari pihak lain misalnya dari pemasok atau bubur ayam kemasan pabrikan dan menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi tanpa diberi nilai tambah apa pun, itu namanya pedagang. Baik berbisnis, menjadi pegawai maupun berdagang memang sama-sama mencari uang, tapi lebih kepada mencari nafkah untuk diri sendiri. Bila pegawai ada di kuadran E (Employee) Cash Flow Quadrant-nya Kiyosaki, pedagang masih di kuadran S (Self Employed). Sementara pebisnis sudah di kuadran B alias Business Owner.

Seringkali kata “berbisnis” memang terdengar lebih keren, seperti halnya juga kata “pengusaha” atau “entrepeneur”. Pebisnis atau businessman saja belum tentu seorang entrepreneur (soal ini akan kita bahas lain waktu). Sehingga, mereka yang menjadi reseller, agen atau distributor produk pihak lain seringkali mengklaim “saya berbisnis A”. Padahal tidak. Cirinya sederhana, apakah Anda punya saham di bisnis yang Anda sebutkan itu? Saham tidak harus berupa modal kapital yang disertakan formal dalam perusahaan lho. Kalau Anda punya warung mie instan di depan rumah, Anda punya bisnis kuliner berupa warung makan. Tapi, Anda tidak bisa mengklaim “berbisnis mie instan”. Sama halnya dengan tukang penjual minyak keliling tidak bisa mengklaim dirinya “berbisnis minyak” atau menjadi bagian dari Pertamina misalnya. Got it?

One response to “Berbisnis atau Cari Nafkah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s