Taufik Kiemas & Ayah Saya

Terus terang, saya tidak kenal almarhum Taufik Kiemas. Saya tidak pernah bekerja untuk beliau seperti senior saya Mas Andreas Harsono. Saya hanya mendengar tentang beliau dari ayah saya yang memang mengenal beliau sejak lama. Paling-paling, saya melihatnya dari kejauhan saat beliau bertemu ayah saya di berbagai acara.

Sudah banyak kesan tentang beliau ditampilkan di media massa. Bahkan dari mereka-mereka yang merasa mengenal beliau sangat dekat dan lebih terkenal. Saya hanya memamparkan hal kecil saja dari almarhum.

Ayah saya hanya dua tahun lebih tua dari alm. Taufik Kiemas. Namun, di organisasi ayah saya jauh lebih senior. Saat ayah saya sudah duduk di kursi pimpinan organisasi masyarakat di masa Orde Lama, Taufik masih anggota biasa. Bisa dibilang, ayah saya mengenal almarhum sebelum beliau dekat dengan Mega. Ayah saya sempat dekat pula dengan keluarga Bung Karno, tapi kemudian menjauh. Bagi ayah saya, anak-anak Bung Karno itu hanya “anak biologis”, sementara ia dan para aktivis PNI (Partai Nasional Indonesia) era Orde Lama adalah “anak ideologis”-nya.

Saya melihat, Taufik yang jelas orang lebih terkenal begitu lekat mengingat nama dan identitas orang. Satu hal yang saya sulit lakukan dan tentu itu sangat bagus. Kalau bertemu ayah saya, dia ingat jelas siapa ayah saya. Beberapa kali ayah saya kecewa dengan Megawati, dalam posisinya sebagai pengurus partai  politik yang dipimpinnya. Tapi justru Taufik sendiri yang menenangkan. Beberapa kali saya pergoki Taufik menelepon sendiri ayah saya untuk menjelaskan. Bisa dibilang, Taufik adalah “pemadam kebakaran” bagi kebijakan istrinya yang kerap menyakiti hati orang. Asal tahu saja, Megawati seringkali emosional dalam memutuskan sesuatu dan cenderung otoriter, sehingga kebijakan yang sudah diambil rapat bisa diubah seketika olehnya sendiri. Misalnya saja ia cenderung memihak orang baru yang mampu menyenangkan hatinya daripada orang-orang lama yang sudah setia berjuang bersamanya bertahun-tahun. Dalam istilah ayah saya, “mateni konco dewe”.

Kalau Taufik bukan suaminya, Megawati tidak akan jadi apa-apa. Ingat, Megawati sudah pernah menikah dua kali sebelum menikah dengan Taufik. Atas dorongan Taufik jugalah Mega -dan juga Guruh- kemudian menerima pinangan Soerjadi untuk bergabung ke Partai Demokrasi Indonesia pada tahun 1987. Padahal, Guntur kakak tertuanya tak setuju karena ada konsensus keluarga Bung Karno atas permintaan Soeharto di tahun 1981 untuk tidak terlibat dalam dunia politik praktis. Akhirnya, dorongan Taufik tepat karena PDI Pro-Mega yang kemudian menjadi  PDI Perjuangan berhasil menang Pemilu 1999.

Dalam Pemilu 1987 dan 1992, beberapa kali saya sempat ikut ayah saya yang berkampanye. Beberapa kali pula ayah saya satu panggung dengan Megawati. Dan di saat itulah saya melihat bahwa Taufik begitu rendah hati dan bahkan selalu menunduk saat bertemu ayah saya, seniornya di organisasi.

Semua orang punya kelemahan, namun di saat ia meninggal, seyogyanya hanya mengingat kebaikannya. Semoga saja kenangan baik itu membawanya mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s