Isra’ Mi’raj & Bung Karno

Apa hubungan antara Isra’ Mi’raj dan Bung Karno? Jelas tidak ada secara langsung, walau kalau mau diambil hikmahnya sih bisa-bisa saja dihubung-hubungkan. Tapi itu nantinya malah terkesan otak-atik gathuk (bahasa Jawa: arti harfiahnya “menghubungkan hal-hal yang sebenarnya tak terhubung”, arti kiasan untuk “mengada-ada”.).

Lalu, kenapa dua hal tak ada hubungannya itu saya sandingkan bersama sebagai judul artikel? Karena kemarin, tanggal 27 Rajab 1433 Hijriah bertepatan dengan 6 Juni 2013, merupakan peringatan Isra’ Mi’raj sekaligus Hari Kelahiran Bung Karno. Bila umat Islam memperingati Isra’ Mi’raj, para Soekarnois berhaul ria bagi idolanya.

Presiden pertama kita itu memang masih memiliki “pengikut” dan pengagum cukup banyak. Sebagian di antara mereka juga pendukung PDIP, tapi sebagian yang lain –seperti saya- tidak. Seperti saya terangkan dalam situs pribadi saya, meskipun saya Soekarnois, tapi saya tetap berusaha proporsional. Karena ini adalah bagian dari “berlaku adil” seperti diperintahkan oleh Islam sebagai agama saya. Soekarno bukanlah sosok “orang suci” yang tanpa salah. Justru dari kesalahan yang dibuat oleh idola, saya bisa belajar banyak.

Salah satu kesalahannya adalah tidak mampu berbuat tegas kepada lawan-lawannya. Memang, pemaaf itu baik. Tapi apakah tetap baik memaafkan mereka yang berniat membinasakan kita? Di sini, prinsipnya berubah menjadi membela diri: membunuh atau dibunuh. Dan itu bahkan dibenarkan dalam agama. Intinya, kita diancam dulu, baru kita boleh menyerang balik. Meski debatable, tapi bagi saya itu termasuk jihad. Karena antara lain ada hadits yang menerangkan bahwa membunuh perampok yang memasuki rumah demi membela keluarga adalah sah dan bila kita terbunuh saat melakukannya dihitung sebagai jihad.

Toh, bagaimanapun visi besar dan berbagai tindakannya telah berhasil membawa sebuah bangsa baru bernama Indonesia berdiri tegak. Dari sebuah koloni jajahan menjadi sejajar dengan bangsa-bangsa merdeka lain. Satu contoh positif yang sangat bagus dari Soekarno adalah ia selalu mengedepankan bangsanya di atas dirinya sendiri. Saat ia menjabat Presiden, pertama saat baru proklamasi dan kedua saat dilantik kembali sebagai Presiden RI pasca RIS (Republik Indonesia Serikat) dibubarkan, ia menolak duduk di dalam struktur partai politik. Baik PNI (Partai Nasional Indonesia) yang dibidaninya sendiri maupun Parindra (Partai Indonesia Raya) yang juga pernah dibesutnya. Sehingga, waktunya total bagi negara tanpa tersita urusan partai. Demikian pula saat ia ditanya kenapa selalu mengenakan jas dan kopiah, tapi tidak pernah terlihat mengenakan beskap dan blangkon, padahal dia orang Jawa. Apa jawabnya? “Saya ini Presidennya Indonesia, bukan Presidennya Jawa”. Lihat kan bagaimana dia mencintai bangsanya?

Saya juga belajar banyak dari hikmah Isra’ Mi’raj, tanpa menghubungkannya dengan kelahiran Bung Karno. Terus-terang, bagi saya kejadian ini termasuk yang sulit diterima akal. Bahkan meskipun saya indigo sekalipun (baca kembali tulisan tentang itu di sini). Tapi saya lantas ingat pada ucapan Abu Bakar r.a. saat diberitahu orang tentang hal itu. Intinya, saat itu ada yang memberitahu bahwa Muhammad yang mengaku Nabi itu berkata begini dan begitu. Apa reaksi Abu Bakar? Ia hanya menjawab ringan, “Benarkah Muhammad mengatakannya? Kalau memang benar, lebih dari itu pun aku percaya!”

Karena kejadian itu, ia di kemudian hari digelari “Ash-Shiddiq”, artinya “Sang Penyaksi”. Tanpa perlu meminta bukti fisik atau bahkan sebelum mendengar langsung dari orangnya, sudah membenarkan kejadian itu. Apa sebabnya? Faktor kepercayaan. Ia begitu percaya bahwa Muhammad adalah seorang “Al-Amin”, yang sangat terpercaya. Tak pernah bohong selama hidupnya, bahkan sejak dari sebelum diangkat menjadi Nabi pembawa ajaran Islam di usia 40 tahun. Ada dua teladan di sini. Pertama, Rasulullah SAW sendiri yang begitu dipercaya karena ia selalu jujur sehingga tak mungkin “mengarang cerita”. Dan kedua, Abu Bakar yang begitu taat dan percaya kepada pemimpinnya, walau usianya justru lebih tua. Bahkan, kelak putri Abu Bakar akan dinikahi Nabi sehingga ia menjadi mertuanya. Tapi, rasa hormatnya tak berkurang sedikit pun.

Nah, kini, adakah pemimpin seperti sosok Rasulullah Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. atau minimal seperti Bung Karno? Indonesia sangat mendambakan sosok pemimpin dengan karakter seperti mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s