Saya Bukan Siapa-siapa

Saya lahir dalam keluarga yang memegang teguh prinsip harga diri yang besar. Begitu besarnya sampai-sampai seringkali melebihi kenyataan. Dan kerapkali saya sebagai anak mengalami benturan ketika nilai-nilai yang dianut orangtua saya itu harus berhadapan dengan dengan nilai-nilai orang lain atau malah aturan dari institusi.

Saya ingat, salah satu benturan itu justru datang saat untuk kesekian kalinya di waktu kecil saya ikut orangtua ke Istana Merdeka. Waktu itu saya kelas 1 SMP. Di masa Orde Baru, ayah saya yang “siapa-siapa” memang selalu diundang menghadiri upacara kenegaraan memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan tiap 17 Agustus. Biasanya, ada norma “anak kecil tidak dihitung” sehingga ayah dan ibu saya bisa mengajak saya. Sialnya, waktu itu di tahun 1989, ada aturan baru. Tulisan “undangan hanya berlaku untuk dua orang” diterapkan dengan ketat. Entah itu karena ada pergantian Komandan Paswalpres (waktu itu belum Paspampres namanya) atau bagaimana, yang jelas saya tak bisa masuk. Karena kami tak pernah pakai sopir dan saya masih kecil, tak mungkin pula saya menunggu di mobil yang diparkir jauh. Maka, jadilah saya lontang-lantung di halaman depan istana, tak bisa masuk ke dalam tempat upacaranya. Saat itu, saya melihat bahwa ayah saya tidak berdaya melawan peraturan dari institusi. Jadi, kami bukan siapa-siapa di hadapan mereka.

Makin bertambah usia saya, saya belajar bahwa di dunia yang luas ini kita sejatinya bukan siapa-siapa. Seorang Camat di Menteng misalnya, saat berada di Meruya tentu dia bukanlah camat. Bahkan dua orang menteri kita ditolak saat hendak masuk ke Freeport menginspeksi tambang yang runtuh. Padahal itu masih di wilayah Indonesia lho.

Saya pun belajar bahwa tak selalu kita diterima dengan tangan terbuka oleh orang lain. Bahkan, meskipun – dalam istilah pribadi saya- “saya bawa duit” sekalipun, belum tentu diterima. Contohnya saat dua tahun lalu saya berusaha mengajak seorang kenalan baru untuk membuat proyek guna memperingati 15 tahun reformasi. Ia yang semula ramah menerima saya di kantornya, mendadak berubah sikap saat saya ajak bertemu di luar kantornya. Karena dia direktur sebuah perusahaan, saya pun mencoba maklum. Mungkin, dia mengira saya akan memintainya semacam uang komitmen. Oke deh…

Beberapa kali kejadian serupa terjadi lagi. Baru-baru ini seseorang yang sebenarnya tidak saya kenal, tapi dikenal oleh teman saya, mencari sponsor untuk sebuah kegiatan yang bersifat sosial. Saya yang tertarik memberikannya penawaran. Alih-alih menjawab, ia yang semula ramah malah tidak merespon sama sekali permintaan konfirmasi saya. Padahal, kalau ia bilang “no thank’s” pun lebih baik daripada “dicuekin”. Nah, di sini kan jelas-jelas “saya bawa duit”, tapi tidak diperlakukan semestinya. Lagi-lagi saya mencoba maklum karena dia selain pengusaha sukses juga anak bekas menteri. Mungkin tawaran saya tak ada artinya buatnya. Okelah kalau begitu…

Tapi yang paling gres saat di sebuah komunitas ada seseorang yang “out of the blue” mencari ide akan diapakan tempat miliknya. Banyak komentar bermunculan. Tapi saya melangkah konkret, saya bilang akan menemuinya langsung. Apa reaksinya? Ditolak saudara-saudara. Lagi-lagi saya maklum. Karena saya tidak tahu siapa dia, maka saya pun bercermin: itu gara-gara saya yang bukan siapa-siapa ini.

Pemahaman ini membuat emosi kemarahan saya mereda. Padahal, ditolak seperti itu sebenarnya menyakitkan. Tapi sekali lagi, dengan merasa diri bukan siapa-siapa, saya merasa bahwa memang Tuhan tidak mengizinkan saya melangkah ke sana. Bisa jadi, kalau saya bertemu mereka-mereka yang menolak saya, malah akan timbul mudharat yang lebih besar kan. Siapa tahu?

One response to “Saya Bukan Siapa-siapa

  1. Ping-balik: Negative Thinking | LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s