Tak Semua Hobby Bisa Jadi Bisnis

Saat ada yang bertanya bingung: “Usaha apa ya?” seringkali saya mendengar jawabannya adalah: “Mulai saja dari hobby”. Kelihatannya benar. Karena saat kita mengerjakan hobby, perasaan kita senang. Dan konon, semua yang dikerjakan dengan hati senang akan menyenangkan pula hasilnya. Artinya, seolah ada korelasi antara hati senang hasil menyenangkan. Benarkah?

Dalam filsafat, jalan pemikiran ini disebu “logical fallacy”. Bahasa Indonesianya seringkali diterjemahkan menjadi “kesesatan logika”. Artinya, jalan pemikiran seperti itu seolah-olah benar, tapi sebenarnya tidak. Gampangnya, kalau Anda pernah melihat film “Mr. Bean”, seperti itulah polanya. “Logika Mr. Bean” membuat pemikirannya “masuk akal”, tapi sebenarnya “ngaco”.

Tanpa membahas lebih jauh soal logika filsafati yang njelimet, saya terangkan secara sederhana saja. Kesenangan tidak ada hubungannya dengan kesuksesan. Tapi sebaliknya, kesuksesan justru yang membawa kesenangan.

Kalau mau punya usaha yang menyenangkan adalah usaha yang tinggal meneruskan saja dan kalau perlu “nggak usah ngapai-ngapain tapi duit dateng sendiri”. Betul atau benar?

Karena itu, tidak benar kalau kita melakukan usaha yang menyenangkan maka pasti sukses. Banyak yang kecewa karena hal ini.

Pertama-tama, harus dimengerti hobby artinya kesukaan atau kesenangan pengisi waktu luang. Ia memang memberikan kesenangan karena sifatnya rekreatif. Ada memang hobby yang bisa “diuangkan” menjadi sebuah bisnis. Tapi ada juga yang tidak.

Saya ambil contoh dulu yang bisa. Misalnya kita punya hobby jalan-jalan. Ini bisa diuangkan dengan menjadi pemandu wisata atau agen perjalanan misalnya. Nah, hobby yang tidak bisa diuangkan adalah hobby yang costly atau memakan biaya banyak. Hobby jalan-jalan kalau tidak mau susah dan mau senangnya saja pun tidak bisa dijadikan bisnis kalau kita tidak bermodal besar. Misalnya kita maunya berangkat dengan pesawat first class dan menginap di hotel bintang tujuh seperti Burj al-Dubai, tentu sulit dijadikan bisnis karena orang yang punya kemampuan seperti itu sedikit. Jadi pebisnis yang hendak menjadi penyedia jasa di kelas ini pun harus punya modal beberapa kali dari mereka yang sekedar pengguna.

Intinya sebenarnya “pasar” dan “SWOT” kita sendiri. Kita harus tahu kapabilitas kita sendiri. Seperti misalnya saya yang punya hobby koleksi. Saya punya koleksi perangko (filateli), uang kuno (numismatik), die cast metal car and military airplane model, airsoft gun, gantungan kunci juga buku. Koleksi itu berharga. Bagi saya dan sesama kolektor. Tapi bagi orang lain, nol besar. Misalnya saya ambil contoh uang kuno. Tidak banyak yang tahu kalau uang yang sudah tidak berlaku harganya malah lebih mahal daripada uang yang masih berlaku. Tapi tentu saja ada kriterianya dan hanya bagi kolektor. Kalau uang sepuluh ribu gambar Ibu Kartini –di masa saya SMP itu uang pecahan paling besar- dibelanjakan di minimarket saat ini, pasti akan ditolak kan? Atau buku saya yang termasuk kategori langka, fisiknya biasanya sudah lusuh. Kalau dijual ke tukang loak, pasti cuma dikiloin saja. Ada buku saya yang harganya mahal per eksemplarnya (saya tak mau menyebut angkanya), tapi kalau dijual ke tukang loak, sekilo –berarti sekitar 20-30 buku tergantung tebalnya- cuma empat-lima ribu rupiah saja.

Kalau saya jadi pedagang barang koleksi, modal saya tak cukup. Saya saja sering minder saat menghadiri peluncuran Sampul Hari Pertama (SHP) di Kantor Filateli Jakarta atau Bandung karena banyak pedagang yang memborong hingga jutaan. Sementara saya paling banter membeli dalam hitungan jari tangan saja. Hobby koleksi adalah salah satu yang tidak menguntungkan kalau dijadikan bisnis atau usaha, kecuali kita memang punya modal kapital lebih dan santai dalam menjual. Tidak bisa ada target penjualan dalam menjual barang koleksi. Karena untuk menebusnya, diperlukan “mahar” dan “calon pengantin” yang tepat. Bisa jadi, barang simpanan kita akan terjual mahal sekali bila sudah “ditaksir” kolektor yang “ngebet”. Anda tahu kan kalau permen karet yang dikunyah Sir Alex Ferguson dalam pertandingan terakhir dalam perannya sebagai Head Coach Manchester United laku terjual US$ 600,000 (setara 5,8 milyar rupiah)? Itulah kolektor. Kalau sudah “naksir”, berapa juga ditebus. Tapi tentu akses untuk menjual dan membeli barang-barang koleksi tak mudah dan tak murah.

Saya pikir, penggambaran itu cukup membuat LifeLearner mengerti bahwa tak semua hobby bisa jadi bisnis. Hanya hobby yang memiliki pasar cukup luas dan kita sendiri cukup punya modal serta SWOT positif bisa dijadikan bisnis.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s