Champions

Image

Arjen Robben dari Bayern Muenchen menenteng piala UEFA Champions, lambang supremasi sepakbola benua biru.

Bayern Muenchen berhasil menjadi juara Liga Champions 2012/2013 seusai mengalahkan klub senegaranya Borussia Dortmund 2-1. Pertandingan final diadakan di Stadion Wembley-Inggris pada hari Sabtu, 25 Mei 2013 lalu. Bagi penyuka sepakbola seperti saya, sudah pasti pertandingan penting semacam ini tak akan dilewatkan. Meski harus menahan kantuk karena perbedaan zona waktu, tentu “dibela-belain” untuk menyaksikannya. Menjadi “saksi peristiwa bersejarah” memang akan membuat orang merasa ikut terlibat dalam peristiwa itu.

Namun, bagi bukan penyuka sepakbola, ada sejumlah hal yang bisa dipetik dari perhelatan sepakbola paling bergengsi di Eropa itu. Pertama, justru dari kata “Champions” alias juara itu sendiri. Dalam bahasa Inggris, akan ada dua kata Champions untuk menyebut sang juara: “Bayern Muenchen the champion of UEFA Champions League”. Liga Champions sendiri disebut begitu karena memang hanya para juara di liga-liga yang tersebar di benua Eropa yang bisa bertanding. Meski bukan hanya juara 1-nya, tapi biasanya hingga peringkat 3 atau 4 di tiap negara. Jadi, memang ini laga para juara. Menjadi juara di antara para juara tentunya sebuah prestasi luar biasa.

Namun, dalam hidup, kita tak bisa selalu juara atau senantiasa menang. Bahkan sang juara Liga Champions pun dalam perjalanannya ke final tidak selalu menang. Terkadang kita harus kalah. Dan justru mental kalah itu lebih penting daripada mental juara. Andaikata kita dihadapkan pada situasi “tak bisa menang”, maka menerima kekalahan dengan lapang dada adalah sebuah pilihan bijak. Tapi, tidak untuk berhenti di situ. Melainkan untuk bangkit lagi. Pembandingnya bukanlah orang lain, tapi diri sendiri.

Kenapa begitu? Karena kalau orang lain, niscaya tak ada habisnya. Bahkan seorang yang namanya masuk dalam jajaran Forbes atau Fortune 500 pun tak akan pernah puas. Itu baru dari segi kekayaan, sementara dalam hidup ada banyak aspek lainnya. Seorang Richard Branson yang kayanya “ngujubile” itu tentu harus menerima kenyataan bahwa ia kalah ganteng daripada Tom Cruise misalnya. Tapi so what? Hidup ini bukanlah kompetisi melawan orang lain, tapi melawan diri sendiri.

Pelajaran kedua, jangan masuk ke kompetisi yang tak bisa Anda menangkan. Dalam perlombaan atau pertandingan biasanya ada seleksi atau tahap audisi. Misalnya di X-Factor Indonesia yang pada hari Jum’at, 24 Mei 2013 lalu juga masuk tahap final dan melahirkan Fatin Shidqia Lubis sebagai juara. Sebelum masuk ke tahap kompetisi ia dan para finalis lainnya telah melalui tahap audisi. Bisa jadi Fatin dan Novita sangat tahu bakat dan potensi mereka, tapi ada pula peserta audisi yang “tak tahu diri”. Mimpi terlalu tinggi. Dalam ajang kompetisi lain seperti Indonesian Idol terlihat betapa banyak peserta audisi yang bahkan “ngomong aja pales”, tapi nekat ikut audisi. Saya terus-terang heran dengan mereka yang tak tahu SWOT dirinya seperti ini. Buang-buang waktu saja.

Namun di sini ada pelajaran ketiga, justru datang dari Arjen Robben. Pemain sayap Bayern Muenchen ini seolah “dikutuk”. Kenapa? Karena ia beberapa kali tampil di final tapi gagal mempersembahkan gelar juara bagi timnya. Pada final 2009/2010 Bayern Muenchen kalah dari Inter Milan. Pada final DFB Pokal 2011/2012, Bayern Muenchen kalah dari Borussia Dortmund. Pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Belanda -negara yang dibela Robben- kalah dari Spanyol. Dan terakhir pada final Liga Champions musim lalu, Robben sendiri malah gagal mengeksekusi tendangan penalti di saat pertandingan memasuki babak perpanjangan waktu melawan Chelsea. Namun, di final kali ini ia justru melesakkan gol penentu kemenangan pada menit ke-89. Apa pelajarannya? Ya. Jangan menyerah! Seringkali kegagalan merupakan pelecut bagi kemenangan berikutnya. Hanya saja dengan mengingat pelajaran pertama tadi, belum tentu kemenangannya berada di tempat yang sama. Robben yang gagal membawa timnya juara di final beberapa kejuaraan toh mampu mencetak gol kemenangan di kejuaraan lain. Novita juga begitu. Meski di X-Factor dia hanya juara dua karena kemenangan ditentukan oleh SMS penonton, tapi dia sudah mampu menembus final. Padahal, dalam ajang pencarian bakat lain dia malah ditolak di tahap audisi!

Jadi LifeLearner, terus berjuang. Hidup tidak berhenti hanya karena Anda gagal satu-dua-tiga kali di satu-dua-tiga kesempatan. Selama nafas dan detak jantung masih ada, itulah kesempatan kita untuk menjadi Champions! Go for it!

Foto: REUTERS/Michael Dalder

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s