Partai Dakwah Apanya?

Habis sudah rasa percaya saya kepada PKS, partai yang mengklaim partai dakwah berazas Islam tersebut. Sekertaris Fraksi PKS di DPR RI dalam wawancara dengan Metro TV hari Jum’at (24/5) sore menggunakan analogi yang menurut saya “tolol”. Pertama, membawa-bawa gender. Kedua, mengesankan bahwa nama-nama yang muncul adalah orang tak bersalah. Ketiga, menyamakan hadiah dengan korupsi.

Apalagi ada analogi yang menyatakan bahwa para wanita penerima aliran dana dari AF itu seperti kalau kita punya tetangga yang sangat baik dan gemar memberi hadiah. “Apakah menerima hadiah dari orang itu salah?” demikian kira-kira argumen tokoh yang tampil dengan pakaian khas Islam, baju koko putih dan peci putih yang biasa kita sebut “peci haji”.

Pernyataan beliau yang terlihat ‘alim’ itu mengomentari mengenai wanita-wanita yang terkait AF. Ia mengesankan kalau wanita-wanita itu tak layak diseret ke dalam pusaran kasus korupsi yang tengah disidik KPK. “Kasihan, kan mereka wanita yang layak dilindungi,” demikian kira-kira perkataannya. Pertanyaan sederhana, apakah hukum mengenal diskriminasi terhadap pelaku? Jawabannya tentu tidak.

Analogi yang dipakai juga lucu. Kenapa? Coba deh, apakah ada tetangga kita yang memberi hadiah sampai milyaran rupiah? Jangankan begitu, kalau tiba-tiba ada yang memberikan hadiah melebihi kebiasaan, misalnya biasanya opor ayam tapi sekarang gulai kambing, kita juga wajar bertanya ada apakah gerangan? Karena belum tentu pemberian itu bebas pamrih. Dan kalau ada pamrihnya, sudah wajar pula bila kita menolak pemberian itu.

Apakah mereka lupa pada sabda Nabi Muhammad sendiri terkait hukum dan tindakan kriminal? Sekedar mengingatkan, hadits panjang berkategori shahih dari Imam Muslim yang dimuat dalam kitab Hudud nomor 3196 itu berbunyi sebagai berikut:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا مَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا وَفِي حَدِيثِ ابْنِ رُمْحٍ إِنَّمَا هَلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Laits. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh telah mengabarkan kepada kami Al Laits dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah dari ‘Aisyah, bahwa orang-orang Quraisy merasa kebingungan dengan masalah seorang wanita Makhzumiyah yang ketahuan mencuri, lalu mereka berkata, “Siapakah yang kiranya berani membicarakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Maka mereka mengusulkan, “Tidak ada yang berani melakukan hal ini kecuali Usamah, seorang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Sesaat kemudian, Usamah mengadukan hal itu kepada beliau, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kamu hendak memberi Syafa’at (keringanan) dalam hukum dari hukum-hukum Allah?” Kemudian beliau berdiri dan berkhutbah, sabdanya: “Wahai sekalian manusia, bahwasanya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah, ketika orang-orang terpandang mereka mencuri, mereka membiarkannya (tidak menghukum), sementara jika orang-orang yang rendahan dari mereka mencuri mereka menegakkan hukuman had. Demi Allah, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, sungguh aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Dan dalam hadits Ibnu Rumh disebutkan, “Bahwasanya yang menyebabkan kebinasaan orang-orang sebelum kalian.”

Karena korupsi jelas mencuri uang negara dan rakyat, maka seharusnya dalil yang sama bisa dipergunakan. Janganlah kita ngotot membela teman, padahal hampir pasti teman itu salah. Dukunglah yang bersangkutan agar memperbaiki diri dan bukan berupaya membantu menghindarkannya dari hukuman.  Seharusnya mereka mengingat positioning partainya sebagai “partai dakwah”, karena pendakwah haruslah menjadi teladan bukan hanya bil lisan tapi juga bil hal. Jangan sampai orang berkata  sinis, “Partai Dakwah apanya?” Kasihan kader di lapis bawah yang telah memberikan kepercayaan dan amanah kepada pemimpinnya kalau disalahgunakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s