Atasi Sendiri, Jangan Tunggu Orang Lain!

Dalam talkshow yang saya hadiri kemarin, dua pembicara yaitu Anies Baswedan dan Pandji Pragiwaksono menekankan apa yang saya jadikan judul hari ini. Saya sendiri seringkali merasa “sendirian” saat berbuat sesuatu yang saya rasa baik. Satu hal sederhana, saya berusaha untuk mengurangi sampah plastik. Misalnya tidak mau diberikan plastik pembungkus saat di minimarket atau membawa sendiri. Saya juga sangat jarang membuang plastik langsung, melainkan saya simpan untuk digunakan kembali. Juga saat menahan diri untuk tidak melanggar aturan lalu lintas seperti menerobos lampu merah atau masuk jalur busway TransJakarta di saat macet atau malah sedang diburu waktu. Dan tentu saja godaan paling besar adalah untuk tidak mengambil jalan pintas “menjadi kaya dengan cepat”, misalnya dengan terlibat dalam suatu proyek yang “abu-abu”.

Apalagi kalau sifatnya pro-aktif. Buku yang saya buat untuk komunitas Indonesia-Young-Entrepeneur (IYE!) misalnya, perlu proses satu tahun lamanya. Hal pertama dan paling sulit adalah mengumpulkan orang lain yang mau menulis. Meyakinkan mereka bahwa proyek amal ini akan ada hasilnya dan bukan cuma “omong doang”. Menjadi pionir dan inisator itu sulitnya seperti “menegakkan benang basah”. Nyaris mustahil.

Itu baru kontribusi kecil. Apalagi yang untuk bangsa. Nggak kebayang deh susyehnye. Beberapa upaya saya belum berbuah, malah ada yang layu sebelum berkembang. Tapi insya Allah saya tidak menyerah, walau tak jarang berkeluh-kesah. Wajar saya kira. Bahkan Nabi saja pernah mengeluh betapa berat tugasnya.

Dan justru inilah yang menyemangati saya. Pandji mengingatkan, bahwa para Nabi itu justru berjuang sendirian. Baik itu Yesus atau Muhammad, semuanya sendirian. Saya baru sadar. Tidak ada legion of army dari Tuhan, walau tentu ada komunikasi yang terjadi dan seringkali diturunkan mukjizat. Tapi keistimewaan  itu bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, melainkan untuk kepentingan tugasnya sebagai “juru warta” Tuhan. Rasulullah Muhammad SAW misalnya, saat ditawarkan oleh sahabatnya untuk membantu mengangkat karung yang hendak dijualnya -karena beliau pedagang-, justru beliau menolaknya. Malah beliau mengatakan, “Akankah kau mengangkat beban dosaku di akherat nanti? Tidak. ini tanggung-jawabku untuk menafkahi hidupku!” Artinya, bila untuk kepentingan pribadi, beliau justru tidak mau memanfaatkan posisinya sebagai pemimpin dan utusan Tuhan.

Sebenarnya, memang tidak semua orang diberikan berkah untuk menjadi pionir. Karena memang mereka yang punya rasa peduli dan kreativitas saja yang mampu. Sama halnya dengan tidak semua orang mampu menjadi Nabi. Bahkan bukan cuma Nabi, para pemimpin, para inovator, para penemu, para pemrakarsa, selalu cuma sedikit jumlahnya. Dan saya mengajak Anda untuk menjadi mereka. Karena orang-orang seperti ini insya ALLAH pahalanya besar dan akan dikenang orang lain sebagai pribadi yang berguna bagi sesama. Mari, kita bersama-sama atasi masalah bangsa. Dimulai dari yang kecil: lingkungan sekitar Anda. Cobalah bergaul dengan sekitar dan berpartisipasi aktif di masyarakat. OK?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s