Reformasi…15 Tahun Kemudian

pemuda yang tergabung dalam Forum Indonesia Bergandengan melakukan aksi bergandengan tangan di kawasan Titik Nol Km, Yogyakarta

15 tahun terasa berlalu begitu cepat. Serasa baru kemarin saya ikut memperjuangkan reformasi di negeri ini. Meski saya cuma berada di “catatan kaki sejarah”, setidaknya peran kecil saya dicatat sejumlah media massa, buku dan film. Barangkali itu semua baru berguna kalau saya kelak “jadi orang”.

Beberapa teman seperjuangan yang saya kenal dulu sudah “mentas”. Sebutlah Rama Pratama. Ketua Senat Mahasiswa UI 1997-1998 ini pernah merasakan empuknya kursi anggota DPR. Julianto Hendro Cahyono Ketua Senat Mahasiswa Universitas Trisakti di masa itu kini jaksa karier. Heru Cokro sang jenderal lapangan FKSMJ  saat pendudukan gedung DPR/MPR-RI kini -yang juga Ketua BPM UI saat itu- menekuni bidang serupa dengan saya: mengelola biro konsultan SDM. Achmad Nurchoeri Pemimpin Umum Harian Bergerak! UI kini jadi analis strategis di sebuah lembaga pengkajian asing. Indra Jaya Piliang senior saya di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) “Suara Mahasiswa UI” selain kini menjabat Ketua Balitbang DPP Partai Golkar juga sedang mencalonkan diri menjadi Walikota Pariaman. Ada banyak nama-nama lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Sementara ada pula tokoh-tokoh reformasi yang sempat saya kenal tapi saya yakin mereka sudah lupa pada saya karena cuma bertemu selintas. Saya tentu tidak akan mengklaim SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) kepada mereka. Mereka semua sudah bertemperasan mencari rezeki masing-masing.

Begitulah hidup. 15 tahun kemudian kita tidak tahu akan ada di mana. Demikian pula cita-cita dan perjuangan bersama dahulu. Apakah rekan-rekan seperjuangan dalam reformasi masih ingat pada gelora semangat dahulu? Entahlah.

Saya sendiri merasa semangat itu sudah mulai meluntur. Tergerus oleh kehidupan dan perjuangan untuk memenuhi kebutuhannya.

Dua tahun lalu saya sempat berupaya “doing something” untuk memperingati hari ini. Maksud hati ingin merengkuh gunung, apa daya tangan tak sampai. Saya tak berhasil. Musibah pribadi yang menghantam saya tahun lalu membuat segalanya berantakan.

Saya melihat, bangsa ini pun mulai berantakan. Cita-cita reformasi mulai luntur dan dilupakan. Saya memantau semua koran yang terbit di ibukota hari ini. Tidak ada satu pun yang memuat 15 tahun reformasi sebagai kepala berita (headline) di halaman satu. Kemarin memang harian Kompas sempat memuat headline berjudul “Agenda Reformasi Melenceng.” Tapi that’s it, segitu doang. Di tingkat nasional, perhatian media massa terfokus pada berita penunjukan Menkeu dan KSAD baru. Selain tentu saja perseteruan KPK vs PKS dengan bumbu wanita-wanita di sekitar AF. Sementara konflik antara artis ABS dengan eyang S sudah mulai mereda, malah menimbulkan efek samping tenarnya “si demi Tuhan”. Lucu. Tapi juga ironis.

Entah apa lagi yang bisa kita perbuat bagi bangsa ini. Sementara masih ada yang meributkan hal kecil seperti soal perbedaan agama atau suku bangsa. Konflik horizontal juga mudah meletup dikarenakan hal-hal sepele. Saya rasa, sudah saatnya kita mencari persamaan dan bukan perbedaan. Kalau Tuhan mau, semua manusia akan dibuat sama. Tapi tidak bukan? Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Tuhan menciptakan manusia berbeda dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Itu artinya, kita dituntut bersosialiasi dan bersilaturahim dengan mengedepankan tenggang rasa dan toleransi.

Kita tidak lagi hidup di abad pertengahan di mana perbedaan pendapat dengan penguasa akan berakibat kematian. Tapi sayangnya, kini di Indonesia justru kondisinya perbedaan pendapat yang terjadi justru antara elemen masyarakat. Padahal, sudah sejak era Majapahit kita dipersatukan dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” dan diperkuat dengan Sumpah Pemuda serta Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Sudah 15 tahun berlalu, saya sendiri tidak putus asa. Meski terasa sulit apalagi saya tidak punya sumber daya memadai, saya berusaha berkontribusi. Saya tahu, banyak yang bergerak bahkan jauh lebih hebat. Anies Baswedan dengan gerakan Indonesia Mengajar-nya misalnya, adalah satu bentuk konkret “lebih baik menyalakan lilin daripada merutuki kegelapan”. Insya ALLAH saya pun begitu. Dan saya harap Anda juga begitu. Yuk, berbuat sesuatu bagi bangsa ini. Jangan sekedar mencari nafkah bagi keluarga belaka, tapi juga memberdayakan masyarakat di sekitar kita. Mulai dari yang kecil, mulai sekarang, mulai dari diri sendiri. Mari, bergandengan tangan demi Indonesia yang lebih baik.

Foto: bisnis.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s