Arti Persahabatan

Saya tahu, seorang sahabat bisa berbeda maknanya bagi setiap orang. Saya kenal seseorang yang mengaku punya sahabat semasa SMA, tapi sudah delapan tahun tak bertemu. Masalahnya, mereka tinggal satu kota! Bagi saya, itu sebenarnya “bekas sahabat”. Karena seorang sahabat itu sejatinya selalu terbuka dan menyediakan diri bagi sahabatnya. Sahabat itu bagaikan belahan jiwa, sehingga saya selalu bersahabat dulu dengan pasangan saya. Karena itu, saat kehilangan pun sakitnya luar biasa. Kehilangan sahabat saja rasanya seperti kehilangan pasangan. Apalagi kehilangan pasangan yang juga sahabat. Dua kali “mak jleb” rasanya.

Sebenarnya tanpa ikut tes MBTI pun saya tahu saya introvert. Orang dengan kepribadian ini biasanya soliter alias senang sendirian. Maka, bila ia mengizinkan seseorang menjadi sahabat atau pasangannya, ia benar-benar sudah membagi dirinya. Jiwanya sudah dibelah seperti Voldemort di Harry Potter. Maka, saat belahan jiwanya pergi, bak horcrux yang dihancurkan, jiwanya tak pernah lagi utuh.

Sebenarnya, saat ini saya tak lagi punya sahabat. Karena mereka yang dulu pernah jadi sahabat saya kini sudah berada di “dunia lain”. Mereka tidak satu frekuensi lagi dengan saya. Sulit meluangkan waktu bertemu dan tidak membolehkan saya datang berkunjung ke rumahnya. Mungkin saya pernah salah yang begitu besarnya di mata mereka, atau malah mereka sekedar tak mampu lagi menerapkan “time management” yang baik. Satu-satunya “mantan sahabat” yang masih “kontak batin” ya yang saya ceritakan itu pada hari Kamis lalu. Itu pun sudah dua tahun kami tak pernah bertemu, padahal rumahnya masih satu kecamatan dengan rumah orangtua saya.

Kalau saya menyebut seseorang sebagai “sahabat” di blog ini yang diikuti keterangan tentang siapa dia atau nama orang yang dikenal di dunianya, itu tak lebih dari SKSD saja. Sebuah upaya mendekatkan diri sekaligus meninggikan derajat. Misalnya saat saya sebut nama seorang petinggi partai politik yang kebetulan memang senior saya di organisasi kampus, atau saat saya sebut nama seorang selebritis di dunia SDM yang setiap pekan tulisannya menghiasi koran terbesar di Indonesia. Dalam tulisan, saya selalu menyebut mereka sahabat. Dan ya, mereka akan bilang kenal saya kalau Anda tanyakan pada mereka. Tapi, mereka bukanlah sahabat dalam arti sebenarnya.

Apa sih arti sahabat dalam arti sebenarnya?

Bagi saya, seharusnya seorang sahabat memenuhi beberapa kriteria (lengkapnya akan saya jabarkan di lifeschool-indonesia). Salah satunya adalah selalu membela belahan jiwanya dalam kondisi apa pun. Ya, dalam kondisi apa pun. Bahkan saat sang sahabat disalahkan oleh semua orang di dunia sekali pun. Itu berarti ia selalu bersamanya dalam suka dan duka. Jadi, tidak ada sahabat yang cuma senang menemani belanja misalnya, tapi tidak mau bersusah-payah menunggui di rumah sakit. Itu sih namanya “teman shopping”.

Seorang sahabat akan “do anything” untuk belahan jiwanya. Dia tidak akan mau mengorbankan persahabatan mereka demi apa pun, tidak juga untuk uang dalam jumlah berapa pun. Maka, jangan bilang Anda sahabat seseorang kalau tak mau menolong saat seseorang itu sedang dalam kesulitan. Tapi sebaliknya, jangan bilang Anda sahabat seseorang kalau maunya ditolong saja dan tak mau menolong, serta tak mau membalas jasa atau malah melupakan jasa orang yang menolong itu.

Banyak fungsi seorang sahabat terutama dalam konteks kesehatan jiwa. Seorang yang memiliki sahabat akan lebih sehat dan mudah menghadapi tekanan mental dalam perjuangan hidup. Kita tahu, hidup tidak mudah. Dan seringkali kita perlu seseorang yang “pokoknya membela kita” dalam situasi sulit. Membela itu bukan berarti membabi-buta mempertahankan posisi sang sahabat sebagai “tidak salah”, tapi membantunya melewati masa-masa sulit. Jadi, misalnya sahabat Anda kebetulan ditangkap KPK, Anda tak perlu lantas bilang KPK salah tangkap misalnya. Tapi dampingi dia terus, besarkan hatinya dan tenangkan jiwanya. Semua orang bisa salah, tapi justru yang penting bagaimana memperbaiki kesalahan itu dan bukan mengingkarinya. Karena justru saat seseorang jatuh, biasanya semua menjauh. Hanya sahabat yang tidak. Dan percayalah, Tuhan menyaksikan kemuliaan itu serta menyiapkan balasan indah bagi sahabat sejati.

Catatan:

KPK = Komisi Pemberantasan Korupsi. Nggak perlu diterangin kan?

MBTI = Myers-Brigg Type Indicator. Satu metode tes psikologi untuk mengetahui kepribadian seseorang. Terdapat 4 kategori utama dengan masing-masing dua tipe di tiap kategori. Sehingga kombinasi dari itu ada 16 matriks kepribadian berbeda.

SDM = Sumber Daya Manusia. Istilah untuk menyebutkan kumpulan manusia yang bekerja atau berkarya bagi organisasi apa pun, termasuk perusahaan atau institusi.

SKSD =  Sok Kenal Sok Dekat, merupakan pelesetan dari Satelit Komunikasi Sistem Domestik yang dipergunakan untuk menyebutkan untuk menyebutkan jenis satelit yang dimiliki Indonesia oleh pemerintah Orde Baru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s