Dimimpikan

Saya mbrebes mili (istilah bahasa Jawa, artinya kira-kira serupa dengan “berkaca-kaca”) saat seorang sahabat SMP-SMA saya tiba-tiba mengirimkan e-mail. Ia bilang beberapa kali memimpikan saya akhir-akhir ini. Ia sekaligus menanyakan kenapa blog ini sudah beberapa waktu kosong tidak diisi tulisan. Karena cuma ada dua penyebabnya, yaitu saya sibuk di dunia nyata atau saya sedang ada masalah, ia langsung menduga penyebabnya adalah yang kedua.

Kalau bertemu saya sehari-hari, niscaya itu tak akan tergambar. Misalnya bila Anda connect dengan saya di FaceBook, tampak foto-foto saya berkegiatan yang masih normal. Beberapa bahkan tampak ceria. Yeah, memang itu yang saya tampilkan di hadapan orang lain. Dan memang itu satu bentuk terapi tindakan nyata yang saya lakukan untuk melawan segala perasaan negatif.

Merasa bodoh, perasaan dikhianati, perasaan gagal dalam hidup, perasaan tak dibutuhkan orang lain hingga perasaan tak dicintai Tuhan menghinggapi. Maka, e-mail dari Yogie Kusuma Putra sahabat saya itu bak setetes embun di padang pasir. Kehausan saya untuk “diuwongke” membuat segala bentuk penghargaan dan pengakuan terhadap eksistensi saya membuat saya seperti “terbang ke langit”. Sebaliknya, segala bentuk ucapan atau tindakan seseorang yang saya rasa merendahkan membuat saya begitu marah atau sebaliknya down seperti ditelan Bumi.

Saya harus menahan diri dari  jatuh ke dalam kubangan kehidupan dengan dua jalan bipolar: pertama adalah menghancurkan diri sendiri, kedua justru menghancurkan orang yang saya anggap sebagai penyebab masalah yang saya hadapi. Bila yang pertama cukup mudah yaitu antara lain dengan aneka tindakan mensabotase diri sendiri. Yang kedua perlu proses karena saya harus membuat yang bersangkutan “tahu rasa”. Karena saya sebenarnya memegang “kartu truf” yang bisa saya mainkan. Keduanya saya mampu melakukannya. Tapi saya tidak melakukan keduanya.

Itulah yang saya sedang hadapi. Jihad akbar melawan diri sendiri. Menahan diri untuk tidak terjerumus kepada dosa besar dan tindakan fatalistis. Mencoba bersabar dan bertawakal. Syukur alhamdulillah saya masih dimimpikan oleh seorang sahabat lama. Itu berarti resonansi kegelisahan saya didengar Tuhan dan sedang dicarikan jalan keluar oleh-Nya. Insya Allah. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s