Wawasan dan Agama

Tahukah Anda, di tahun 1969, saat Amerika Serikat berhasil mendaratkan wahana luar angkasa Appolo XI ke Bulan, ada sebagian ulama Indonesia yang tidak percaya? Bahkan, mereka mengkafirkan siapa saja yang berani mempercayai hal itu karena dianggap sebuah kemustahilan. Tahukah Anda, di abad pertengahan, gereja Katholik Roma mempercayai bahwa Bumi itu datar. Dengan kekuasaan besar yang dipegangnya, mereka bahkan bisa menghukum mati orang yang menentang pendapat ini. Salah satu korbannya adalah Galileo-Galilei.

Di kemudian hari, siapa yang terbukti benar?

Kedua kasus di atas bisa dengan mudah disalahkan kepada “oknum”. Well, tidak. Itu adalah keyakinan. Iman. Dan iman tanpa dalil jelas dalam Islam disebut “taklid” buta. Imam Al-Ghazali pernah menyatakan, ilmu tanpa iman itu lumpuh atau pincang dan iman tanpa ilmu itu buta.

Kira harus memisahkan antara Tuhan, agama, institusi agama, pemuka agama dan kita sebagai bagian dari umat beragama. Tuhan adalah satu sosok yang diyakini sebagai Penguasa Alam Raya, karena itu kebenaran yang ada pada-Nya mutlak. Nah, masalahnya, hingga kini manusia masih berdebat seperti apa Tuhan itu. Bahkan ada yang meragukan adanya Tuhan. Maka, hingga kelak di akhir zaman Tuhan menampakkan diri –dalam format apa pun- kita tak bisa mengerti kebenaran Tuhan sepenuhnya. Karena itu Tuhan kemudian menurunkan petunjuk dengan berbagai cara kepada para pemuka agama. Ini pun kemudian terbagi lagi menjadi berbagai tingkatan mulai dari Rasul, Nabi hingga sekelas “guru ngaji” atau “guru sekolah Minggu”. Merekalah yang sejak masa animisme-dinamisme pra-agama formal bertindak sebagai “penafsir” kebenaran dari Tuhan. Sementara kita orang biasa yang merupakan bagian dari umat beragama cuma bisa mengikuti penafsiran pemuka agama saja. Di sini pun tingkatan umat beragama ada berbagai ragam lagi, mulai dari yang “makan sekolahan” hingga sangat awam di kampung-kampung. Wawasan beragama setiap orang tentu berbeda tergantung pada tingkat pendidikan, strata sosial, lingkungan aktivitas hingga latar belakang sosio-demografis.

Di sinilah kesulitan orang berwawasan sempit –dan biasanya juga berotak udang- untuk mengerti. Orang-orang macam ini menganggap dirinya sebagai sentral dunia dan dunia kecilnya adalah satu-satunya dunia yang ada di dunia besar yang mahaluas ini. Tidak ada perspektif atau sudut pandang bagi orang semacam ini karena bagi mereka hanya merekalah yang benar. Perbedaan pendapat tidak disikapi sebagai rahmat melainkan dipandang sebagai sebuah ketidakwajaran. Semua orang harus sependapat dengan mereka dan bila ada yang menentang, mereka siap “menebas leher”-nya tanpa mau mendengar pendapat orang lain. “Pokoknya gue bener, elu salah,” itu prinsip mereka.

Bagaimana menghadapi orang yang sebenarnya berwawasan cupet ini tapi merasa paling hebat di antara 6 milyar manusia? Hindari saja. Cuekin. Karena pengalaman saya, melakukan dialog dengan orang-orang seperti ini nyaris mustahil. Karena mereka mengajak debat. Debat itu esensinya menang-kalah dan bukan mencari titik-temu yang win-win solution (lihat kembali tulisan saya: Debat atau Dialog?). Bahkan saat sudah terbukti salah dan kalah pun mereka akan mengelak dengan mengalihkan isu pembicaraan. Sehingga, tak akan ada habisnya sampai kita sebagai lawan debatnya yang mengaku kalah. Kalau kemudian dia lihat situasi tak memungkinkan, misalnya pendukung kita lebih banyak, maka dia akan ngacir dan ngeloyor pergi begitu saja, tak mau mengakui kesalahan dan kekalahan.

Maka, kalau ada adagium Jawa “sing waras ngalah” (yang waras ngalah), mungkin perlu ditambahi “sing awas wawasane ngalah” (yang luas wawasannya ngalah). Karena nggak mungkin kan menang debat lawan wong ora waras sing ora nduwe wawasan? Hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s