Sir Alex Ferguson Pensiun

pidato Sir Alex pensiun 12 Mei-01-watermark Bhayu-lifeschool

Rasanya tak ada sosok di dunia modern ini yang saat dia pensiun disesalkan oleh banyak orang. Di satu momentum sempat tersiar nama Steve Jobs saat ia dipaksa mundur dari Apple tahun 1985. Tapi, selain praktisi teknologi informasi, pengagumnya dan pengguna Apple, tak banyak yang tahu berita tentangnya. Tentu, tak ada siaran langsung televisi juga saat itu.

Tentu ini berbeda dengan sosok fenomenal ini. Ya, dialah Sir Alex Ferguson. Pelatih Manchester United selama 26 tahun terakhir. Bisa dibilang, capaian prestasinya adalah yang paling moncer di planet ini. Betapa tidak, total 38 trofi telah ia menangkan bagi MU dengan total 49 trofi sepanjang karirnya sebagai kepala pelatih atau manajer.

Meski bisa jadi kelak akan ada pelatih yang bisa menyamai atau bahkan melebihi torehan trofinya, tapi mungkin tidak dalam waktu dekat. Bisa jadi kelak Pep Guardiola atau Jose Mourinho yang masih muda bakal melebih torehan prestasi si kakek. Tapi, ada satu faktor yang sulit disaingin: kesetiaan atau loyalitas. Masa 26 tahun berada di klub yang sama sulit disamai siapa pun. Apalagi di iklim dunia kerja seperti saat ini yang cenderung pragmatis dan oportunis. Bahkan Pep yang diramal bakal bertahan lama di Barca saja hengkang. Apalagi tipe-tipe high flyer seperti Jose Mourinho. Sudah pasti tidak bakalan betah.

Kalau bicara orang yang sudah menorehkan prestasi, pasti penuh puja-puji. Tapi coba kita lihat catatan “opa” Alex di enam tahun pertama di MU. Nol besar. Ia yang sebelumnya berhasil membawa Aberdeen menjadi juara liga Skotlandia tak mempersembahkan satu trofi pun bagi klub “setan merah”. Tapi manajemen MU tetap memberikan kepercayaan.

Apa artinya? Bahwa kesuksesan itu butuh proses. Tidak serta-merta. Jose Mourinho dengan sengit pernah berkata saat baru tiba di Real Madrid dan dituntut untuk segera memberikan prestasi: “Saya bukan Harry Potter!” Tapi di dunia nyata, kita seringkali meminta orang lain berbuat bak “sulapan”. Kalau kata orang Jawa, “sak dek sak nyet”, artinya “seketika itu juga”. Padahal, itu mustahil.

Bicara soal Sir Alexander Chapman Ferguson, banyak teladan yang bisa diambil. Dan rasanya saya akan mengambil contoh tentangnya untuk beberapa kali tulisan lagi. Tapi kali ini, cukuplah rasanya kita mengingat prestasinya yang hebat dengan menyadari bahwa untuk mencapainya perlu proses yang tidak mudah. Izinkan saya menutupnya dengan mengutip sepotong kalimat di pidato perpisahannya semalam, usai MU mengalahkan Swansea City 2-1 di Old Trafford:

“…don’t let yourself down. The expectations is always there.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s