See You On Top!

Karena keluarga kami berlangganan Koran Sindo, maka saya jadi sering membaca tulisan Billy Boen. Dia adalah founder komunitas Young-On-Top (YOT). Salah satu tagline yang kerap dikumandangkan adalah yang jadi judul tulisan ini: See You On Top!

Kelihatannya keren dan bagus. Dan saya sendiri dulu juga punya prinsip serupa. Tapi kini saya melihat kelemahan prinsip ini. Pertama, orang yang mengucapkan memposisikan diri lebih tinggi dari yang mendengarkan. Ia sudah di atas, dan seakan menatap ke bawah dan mengajak, “Yuk, naik ke puncak seperti saya!” Kedua, andaikata pun posisinya dianggap sejajar. Maka ajakannya akan terdengar seperti, “Hei pals, yuk kita ke puncak. Aku lewat tangga ini, kamu di tangga sana!” Tidak ada sinergi dan kerjasama di sini. Masing-masing mendaki dengan caranya sendiri, dan “janjian” sama-sama ketemu di atas.

Intinya, kalimat “Sampai jumpa di puncak” hanya mencerminkan hasil, namun mengabaikan proses. Itu yang saya kurang sepakat. Ini agak subyektif sebenarnya, karena dalam hidup saya pribadi, saya dua kali mengalami kepahitan karena orang yang saya bantu untuk naik ke puncak justru melupakan saya saat sudah di atas. Kalau Anda ikut pernah kegiatan halang-rintang (misalnya di Pramuka, Paskibra, Latihan Dasar Kepemimpinan, Latihan Dasar Militer atau yang serupa itu), ada satu halangan yang mengharuskan kerjasama tim. Halang-rintang itu berupa tembok atau susunan kayu setinggi kira-kira tiga meter. Agar bisa naik ke atas, harus ada orang yang bertindak sebagai tumpuan di bawah agar  temannya bisa menjadikannya tangga. Dan di saat terakhir dimana tinggal si penumpu yang harus naik, temannya menunggu di atas tembok serta mengulurkan tangannya agar bisa menarik si penumpu naik.

Dalam film GI Jane, Letnan Dua Jordan O’Neill yang menjadi wanita pertama dan satu-satunya sebagai peserta pelatihan Navy SEALS mengalami hal seperti itu. Ia disabot temannya sehingga menempuh waktu terlama di halang-rintang. Karena kejadian itu di pelatihan militer, kontan temannya mendapatkan hukuman dari instruktur yang mengamati dengan teleskop.

Nah, sayalah orang yang bertindak sebagai tumpuan itu. Diinjak agar teman setim saya bisa naik ke atas. Dalam hidup saya, “teman setim” itu adalah pasangan saya sendiri. Ia saya bantu naik ke puncak, tapi saat sudah di puncak, ia malah asyik sendiri karena bertemu lelaki lain yang sudah ada di sana melewati tangga berbeda. Dan ia melupakan saya yang setia menungguinya di bawah. Sementara saya terbengong-bengong melihatnya dari bawah.

Dalam hidup, siapa yang menghukum pihak yang tak tahu diri itu? Sepertinya tidak ada, tapi saya percaya ada Tuhan yang jelas Maha Melihat dan Maha Mengetahui tanpa teleskop. Sehingga saya pun seperti Letnan Dua Jordan O’Neill berupaya sendiri agar bisa menyusul ke atas. Dan saya –seperti Letnan Dua O’Neill- pun berhasil! Makanya, saya pribadi kini lebih suka dengan taglineLet’s Go To The Top Together!”, Mari Bersama-sama Kita Ke Puncak!

Bhayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s